Ikhwanul Muslimin Tagih Janji Revolusi

Foto: Antara

Kairo, Sayangi.com – Rakyat Ikhwanul Muslimin menagih janji Revolusi. Bentrokan Mesir yang terjadi selama satu pekan telah menewaskan 50 orang pendukung Morsi dalam pertempuran dengan pasukan keamanan di luar markas Garda Republik, yang diyakini sebagai tempat penahanan Morsi. Sementara itu, pejabat Mesir mengatakan tersangka dari kelompok Islam militan menyerang sebuah bus yang membawa pekerja ke pabrik semen di bagian utara Sinai, yang nemewaskan tiga orang, dan 14 orang terluka.

Polisi menggunakan gas air mata untuk menghalau pemrotes, yang memblokir jalanan utama di ibukota. Sejumlah pemrotes melemparkan batu membalas polisi.

Bentrokan terjadi setelah seorang utusan senior AS mengatakan Mesir telah diberi “kesempatan kedua” untuk menciptakan demokrasi. Utusan itu bertemu dengan pemimpin sementara Mesir tetapi ditolak oleh kelompok penting di negara tersebut termasuk pendukung Morsi, Ikhwanul Muslimin.

Rencananya dalam kunjungan dua hari Wakil Menteri Luar Negeri AS juga akan bertemu dengan partai ultra konservatif Salafi al-Nour dan Tamarod, tetapi ditolak.

Bentrokan yang terjadi pada Senin (15/7) terjadi setelah pemrotes memblokir jalan utama jembatan. Sebelumnya, demonstran pro-Morsi dilaporkan berada diluar masjid Rabaa al-Adawiya, dan meminta agar Morsi kembali menjadi presiden.

“Keluar Sisi,” teriak sejumlah demonstran yang ditujukan kepada kepala pasukan keamanan Jenderal Abdel Fattah al-Sisi, yang menjabat selagi Morsi digulingkan.

Wakil Menteri Luar Negeri AS, William Burns bertemu dengan Presiden Adly Mansour dan Perdana Menteri Hazem al-Beblawi, dan juga Jenderal al-Sisi.

Dia mengambarkan peristiwa yang terjadi dalam dua pekan terakhir sebagai “kesempatan kedua untuk merealisasikan janji revolusi” menyusul berakhirnya masa kekuasaan presiden Hosni Mubarak pada 2011.

Dia meminta kepada militer untuk mencegah adanya “penahanan yang bermotif politik,” AS juga mendukung Mesir yang “stabil, demokratis, inklusif dan toleran”.

Tetapi bersikukuh bahwa AS tidak akan mengajari siapapun, dan tidak akan memaksakan apapun kepada Mesir. AS memberikan bantuan rutin kepada militer Mesir setiap tahunnya, senilai $1,5 miliar atau sekitar Rp15 triliun. (FIT/bbc)