Pertumbuhan Ekonomi 5,8 Persen Dipandang Aman dan Realistis

Ilustrasi: romanianinsider.com

Jakarta, Sayangi.com – Ekonom senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan berpendapat, prediksi Bank Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,8-5,9 persen di tahun 2013 cukup realistis.

“Bank Indonesia cukup realistis dalam paparannya, karena 5,8-5,9 persen merupakan pertumbuhan yang berkesinambungan dan stabil,” katanya di Jakarta. Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada angka tersebut tidak berdampak terlalu negatif terhadap neraca transaksi berjalan.

“Pertumbuhan ekonomi di bawah enam persen itu stabil dan tidak terlalu berdampak negatif terhadap kurs karena neraca transaksi berjalannya masih di bawah tiga persen dari produk domestik bruto (PDB),” katanya.

Fauzi memaparkan, jika defisit neraca transaksi berjalan masih di bawah tiga persen, akan lebih mudah untuk membiayainya. Dia juga menilai, kenaikan suku bunga merupakan cara yang efektif untuk menstabilkan kondisi perekonomian yang dinilai tengah mengalami perlambatan.

“Pertama menaikkan suku bunga untuk mempertahankan rupiah, artinya membuat rupiah lebih menarik bagi orang Indonesia yang punya dolar dan investor asing,” katanya. Kedua, Fauzi menambahkan, kenaikan suku bunga bisa mengerem pertumbuhan ekonomi, sehingga pertumbuhan impor bisa ditekan dan defisit neraca transaksi berjalan bisa diredam.

“Dampak keduanya akan positif terhadap rupiah karena rupiah lebih menarik dari suku bunga dan deposito yang lebih tinggi serta menekan perumbuhan investasi dan impor,” katanya.

Namun, terkait ketersediaan barang modal dan konsumsi yang sulit dijamin jika tidak melakukan importasi, Fauzi menilai neraca modal harus dipastikan surplus. “Karena itu harus memastikan neraca modal dan finansial ini surplus terus agar bisa menutupi defisit neraca transksi berjalan,” katanya.

Dia menyebutkan ada dua opsi yang bisa dilakukan pemerintah, yakni menaikkan “foreign direct investment” (FDI) dan portofolio agar terjadi lagi “capital inflow”.

“Menaikkan FDI itu agak lama dan tidak mudah digenjot, paling tidak portofolio tetapi jangan hitungan hari karena defisit yang harus ditutupi mencapai 20 miliar dolar AS,” katanya. Dia menyebutkan, Indonesia membutuhkan paling tidak 800 juta hingga 1,2 miliar dolar AS setiap bulannya untuk portofolio aliran asing ke saham dan surat berharga negara (SBN).

Namun, dia mengaku pesimistis karena pada Juni 2013 aliran ke luar negeri mencapai 4 miliar dolar AS.

Fauzi mengatakan perlambatan ekonomi nasional juga dipicu kondisi secara global. “Sebetulnya, kalau pertumbuhan ekonomi 5,8 sampai enam persen itu tidak buruk karena pertumbuhan ekonomi global juga sekitar 2,3-2,4 persen,” katanya.

Menurut dia, jika pertumbuhan ekonomi di atas enam persen akan berdampak pada defisit neraca transaksi berjalan yang melebar. “Kalau pembiayaannya tidak cukup, rupiah anjlok,” katanya. (MSR/ANT)