Banjir Terparah Sepanjang Sejarah Kendari

Ilustrasi: Antara

Kendari, Sayangi.com – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) H. Nur Alam menyatakan, banjir yang terjadi di Kendari akibat hujan deras selama hampir dua pekan terakhir menjadi yang terparah sepanjang sejarah ibukota Sultra itu.

“Ini banjir yang luar biasa, karena hampir seluruh kota yang letaknya di kerendahan digenangi banjir, dengan ketinggian bervariasi 1-3 meter,” kata Nur Alam, saat melakukan peninjauan di sejumlah titik terparah dilanda banjir di Kota Kendari, Selasa (16/7).

Menurut Nur Alam yang didampingi sejumlah pejabat, langkah Pemerintah untuk membantu warga yang terkena banjir adalah melakukan evakuasi oleh tim, baik dari SAR maupun dari tim gabungan dari Badan penanggulangan bencana daerah, Brimob, TNI, dan unsur masyarakat lainnya.

Ia mengatakan, titik lokasi yang terparah adalah kawasan Kota Lama, Mandong, Andonohu, Baruga serta sebagian Wua-Wua pasar Wuawua dengan ketinggian 1-3 meter lebih.

“Sebenarnya pagi hari ini kami sudah berencana untuk mengumpulkan semua pejabat teknis di Kota dan Provinsi, namun terhambat masalah akses jalan menuju kantor Gubernur,” kata Nur Alam saat ditemui di titik terparah Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga.

Akses jalan yang menghubungakn daerah Mandonga menuju Kota lama, serta Mandonga menuju Bandara Haluoleo juga tidak bisa dilalui karena Sungai Wanggu yang membelah dari wilayah Baruga, Wuawua hingga ke Pasar Baru tergenang air hingga 2-3 meter.

Warga masyarakat, hingga saat ini selain berusaha menyelamatkan sebagian barang-barang mereka ke lokasi ketinggian, juga tidak sedikit di atara mereka ada yang terjebak dalam rumah. Tim penolong dari SAR Kendari bersama gabungan aparat Brimob dan unsur TNI, hingga kini sudah melakukan evakuasi terhadap warga yang rumahnya terendam banjir.

Salah seorang tim penolong dari Brimob Polda Sultra Asri Jaya menyatakan, kesulitan untuk membantu para warga yang terkena banjir, karena peralatan perahu karet yang dimiliki sangat terbatas. Belum lagi aparat yang tergabung dalam regu penolong itu jumlahnya sangat terbatas.

Hingga berita ini diturunkan, hujan yang melanda Kota Kendari masih saja turun, mengakibatkan warga panik karena setiap saat air terus membesar dan menggenangi rumah mereka. (MSR/ANT)