Jika Dibuat Aturan Pemberangkatan Haji, Menag: Nanti Masyarakat Marah

Foto: Sayangi.com/Hurri Rauf

Jakarta, Sayangi.com – Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan masyarakat yang belum pernah melaksanakan ibadah haji akan menjadi prioritas untuk diberangkatkan ke tanah suci Mekah. Sementara, masyarakat yang sudah pernah melaksanakan rukun Islam yang kelima itu tidak akan diberangkatkan, kecuali sudah mendaftar tiga atau lima tahun sebelumnya.

“Setiap tahun yang diprioritaskan berangkat itu adalah yang belum pernah. Tapi yang sudah pernah haji tetap tak bisa dihindari. Ada juga yang berangkat,” kata Suryadharma Ali di Jakarta, Rabu (17/7).

Menurut dia, persentase orang yang orang yang sudah naik haji dan kemudian diberangkatkan kembali ke tanah suci itu sangat kecil, yakni hanya 2 persen. Dari 2 persen itu, kata dia, kebanyakan adalah petugas-petugas haji.

“Pimpinan-pimpinan kelompok ibadah haji, KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Yang paling banyak dari situ. Termasuk petugas-petugas pengendali. Jadi kebanyakan yang sudah haji itu adalah dari kelompok-kelompok itu,” katanya.

Saat ditanya kenapa orang yang sudah berangkat haji tidak ditolak saat mendaftar karena banyak masyarakat yang gagal diberangkatkan, Menag mengatakan bahwa hal itu tugasnya lain.

“Misalnya saya ini punya KBIH. Atau saya adalah pengurus atau pimpinan atau staf perusahaan yang memberangkatkan haji. Nah mau gak mau dia lagi orangnya. Itu tak bisa ganti-ganti. Karena yang berangkat yang membimbing itu orang-orang yang berpengalaman,” katanya.

Jika ada orang yang mendaftar berulang kali untuk naik haji, Suryadharma mengatakan hal itu boleh saja. Kendati demikian, katanya, orang tersebut belum tentu bisa diberangkatkan ke tanah suci Mekah.

“Nah yang sudah haji, kemudian dia berangkat kita lihat apakah berangkat baru dua atau tiga tahun lalu. Jika dia bukan petugas dia tolak. Tapi kalau dia lebih dari lima tahun dia bisa diloloskan. Jadi sekali lagi persentase yang sudah haji itu tidak lebih dari dua persen. Misalnya saya sebagai amir haj, saya kan sudah berhaji, setiap haji saya berangkat karena tanggungjawab saya terhadap jamah haji. Dirjen saya misalnya begitu. Termasuk pembimbing-pembimbing itu yang banyak. Petugas, dokter, perawat, banyak itu,” katanya.

Saat ditanya apakah dirinya punya inisiatif untuk mengusulkan agar dibuat peraturan tentang orang yang sudah berangkat haji tidak boleh mendaftar haji, Menteri Surya mengatakan bahwa hal itu tidak bisa dibuat aturan.

“Tidak bisa. Itu tidak bisa, nanti masyarakat marah. Jangankan aturan begitu, aturan misalnya jamaah lanjut usia tidak boleh berangkat. Kemudian ada aturan jamaah yang punya penyakit tertentu tak boleh berangkat. Tak boleh, itu tidak bisa. Ini agama,” kata dia.

Tentang agama, terutama terkait pelaksanaan ibadah haji, lanjut dia, ada faktor lain yang tak bisa dijelaskan secara rasional. Menteri Suryadharma Ali kemudian menceritakan kisah jamaah haji yang usianya 96 tahun dan didampingi oleh cucunya yang usianya 40 tahun saat menunaikan ibadah haji.

“Cucunya meninggal, sementara si jamaah yang usianya 96 tahun itu sehat wal’afiat. Ini pengalaman saya,” cerita Menteri Suryadharma.

Lebih lanjut ia menceritakan pengalaman tentang jamaah yang usianya 106 tahun. Jamaah kaum hawa asal Medan, Sumatera Utara, itu kata dia berprofesi sebagai tukang pijat. Saat itu, Menteri Suryadharma berpikir jika jamaah yang usianya 106 tahun itu akan didorong atau digendong saat tiba atau melaksanan rukun-rukun ibadah haji di tanah suci Mekah.

“Yang saya perkirakan dia sampai di Mekah didorong-dorong atau digendong, ternyata segar bugar. Kemudian saya juga mendapatkan pengalaman ada seorang anak muda, badannya bagus, ganteng orangnya. Kakinya dipotong. Ini orang Jogja. Dia baru keluar satu minggu dari Rumah Sakit diamputasi kakinya. Tapi karena dia mau ya dia berangkat. Jadi kan kalau kita nalar rasional kan gak bisa, ngapain nyusa-nyusain,” pungkasnya. (HST)