Sistem Baru Untuk Jaga Stabilitas Perbankan

Ilustrasi: telegraph.co.uk

Jakarta, Sayangi.com – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan menerapkan sistem premi diferensial (SPD) secara resmi pada tahun 2015. Saat ini, LPS masih fokus melakukan sosialisasi dan konsultasi ke berbagai pihak, terutama kepada industri perbankan sebagai pihak yang paling berkepentingan dalam penerapan premi ini.

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Mirza Adityaswara menyatakan, pengawasan perbankan dan pengelolaan ekonomi makro yang prudent dapat membantu kinerja LPS dalam menjaga stabilitas perbankan di Indonesia.

“Dalam sistem premi diferensial, LPS akan menjadikan berbagai indikator perbankan dan tingkat kesehatan untuk menilai risiko masing-masing bank,” ungkap Mirza.  

Demikian, sambung Kepala LPS, nantinya premi yang dikenakan akan sesuai dengan hasil dari penilaian risiko tersebut. Untuk preminya sendiri, untuk bank yang paling sehat ditetapkan minimal 0,15% dari total DPK per tahun, sedangkan bank yang paling besar tingkat risikonya dikenakan premi 0,35%.

Saat ini, LPS masih menerapkan sistem premi sama besar atau flat rate premium kepada seluruh bank, sebesar 0,2% dari total DPK per tahun. Sistem premi ini dinilai tidak adil karena merugikan bank-bank yang memiliki tingkat risiko yang kecil, atau dengan kata lain lebih sehat.

Selanjutnya, Direktur Penjaminan dan Manajemen Risiko LPS Salusra Satria dalam paparannya menyatakan bahwa SPD diterapkan untuk membantu stabilitas perbankan di masa depan. Dengan adanya SPD, beberapa manfaat yang diharapkan adalah akan medorong bank untuk meningkatkan kinerjanya.

Dari sisi kinerja, sampai Juni 2013, LPS telah membayar klaim penjaminan untuk nasabah bank yang dicabut izin usahanya sebesar Rp 691 m dan sekitar 95 persennya telah diambil oleh nasabah yang berhak. Pada dasarnya, SPD akan membagi bank ke dalam lima kategori, dan premi yang akan diterapkan berkisar antara 0,15%-0,35%.

“Sistem ini telah dan sedang didiskusikan dan telah mendapatkan masukan yang konstruktif dari para pemangku kepentingan,” ujar Salusra.

LPS adalah lembaga independen yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 24 tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (UU LPS) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 tahun 2009. Dalam menjalankan fungsinya LPS menjamin simpanan nasabah bank yang berbentuk tabungan, deposito, giro, sertifikat deposito, dan bentuk lain yang dipersamakan dengan itu. LPS juga turut aktif dalam menjaga stabilitas sistem perbankan sesuai kewenangannya. (MSR)