KNPB Gelar Demo Menuntut Pengusutan Insiden Nabire

Jayapura, Sayangi.com – Sekelompok warga Nabire, Provinsi Papua, Kamis (18/7) yang mengatasnamakan diri Komite Nasional Papua Barat (KNPB), menggelar aksi demo di depan kantor bupati setempat meminta agar pemerintah bertanggungjawab dan menjelaskan insiden sesudah final tinju di GOR Kota Lama pada Minggu (14/7).

Nidya warga Seruini, Kabupaten Nabire ketika dihubungi Antara dari Jayapura, Kamis (18/7), mengatakan aksi demo tersebut dilakukan sejak pagi.  “Jadi selain demo politik (teriak merdeka,red) oleh KNPB. Mereka juga meminta bertanggungjawab atas tewasnya 17 warga Nabire di GOR Kota Lama pada Minggu malam,” katanya.

Menurutnya, aksi demo tersebut membuat jalan utama di Kota Nabire menuju kantor bupati setempat sempat macet total. Aparat kepolisian terlihat siaga di sejumlah titik dan mengawal aksi demo tersebut. “Tadi jalan ke kantor bupati macet total. Para pendemo dikawal oleh polisi,” katanya.

Nidya mengaku terkait insiden GOR Kota Lama yang menewaskan belasan warga itu, aktivitas warga Nabire belum berjalan sebagaimana mestinya. “Saya dan keluarga belum bisa beraktivitas baik karena masih takut dengan insiden tinju itu. Tapi ada aparat kemananan yang terus berjaga-jaga jadi ada rasa aman,” katanya.

Terkait dengan kerusuhan yang terjadi ketika pertandingan tinju sehingga menyebabkan 18 orang meninggal, Bupati Kabupaten Nabire, Isaias Douw, mulai dimintai keterangannya oleh pihak kepolisian. Kepala Kepolisian Daerah Papua Tito Karnavian mengatakan pihaknya sudah memeriksa sekitar 15 orang dari 20 orang saksi yang dipanggil. “Ke-20 orang tersebut baik saksi, panitia, aparat keamanan termasuk investigasi internal juga untuk memeriksa masalah keamanannya,” tandasnya kepada Antara di Jayapura, Kamis (18/7).

Tito menjelaskan untuk Bupati Nabire, pihaknya baru diminta keterangan saja, belum dilakukan pemeriksaan. Selain itu, aparat gabungan yang terdiri dari TNI dan Polri masih disiagakan di Kabupaten Nabire, Papua paska terjadinya rusuh pada Minggu (14/7) yang mengakibatkan 18 orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka.

Aparat gabungan ini akan disiagakan hingga satu minggu kedepan. Disiagakannya aparat gabungan ini untuk mengantisipasi isu-isu yang berkembang paska kejadian. Pasalnya, banyak isu beredar bahwa korban yang meninggal diakibatkan santet, racun dan perkelahian. (HST/ANT)