Bentrok Tentara Vs Gerilyawan di Pakistan Tewaskan 15 Orang

Foto : www.vista-tourism.com

Peshawar, Sayangi.com – Setidaknya 15 gerilyawan dan empat tentara tewas dalam baku tembak di satu distrik suku Pakistan barat laut, kata para pejabat keamanan, Sabtu (20/7).

Konfrontasi itu dimulai Jumat dan berlanjut sampai Sabtu pagi di Khyger, salah satu dari tujuh distrik suku di perbatasan Afghanistan,kata para pejabat.

“Dalam baku tembak itu,pasukan menewaskan setidaknya 15 gerilyawan dan menghancurkan dua tempat persembunyian mereka,” kata seorang perwira senior keamanan kepada AFP. “Empat tentara juga tewas dalam operasi itu,” tambah pejabat itu.

Seorang perwira keamanan lainnya juga mengonfirmasikan jumlah itu, yang tidak dapat diverifikasi oleh sumber-sumber independen.

Tidak jelas bagaimana bentrokan itu dimulai, tetapi pasukan Pakistan telah menjadi sasaran Taliban dan milisi Lashkar-e-Islam dalam serangan militer baru-baru ini di distrik penting suku di Khyber.

Daerah penting itu terletak di garis pasokan NATO ke Afghanistan, yang digunakan pasukan pimpinan AS untuk mengevakuasi peralatan militer menjelang penarikan pasukan mereka tahun 2014.

Pasukan Pakistan telah berperang selama beberapa tahun terhadap gerilyawan di daerah suku, yang Washington anggap sebagai pangkalan utama Taliban dan milisi Al Qaida yang bekerja sama menyerang terhadap pasukan Barat dan di Afghanistan.

Di tempat terpisah, satu serangan bom di kota pelabuhan Karachi, Pakistan Jumat malam mencederai delapan orang termasuk seorang pejabat pemerintah, kata polisi.

“Tampaknya bom itu ditempatkan dalam satu sepeda motor, delapan orang cedera,kondisi dari sejumlah dari mrrea kritis,” kata Nasir Lodhi, seorang perwira senior polisi kepada AFP.

Lodi mengatakan Matanat Ali Khan,seorang pejabat pemerintah, menjadi target “tetapi motif dan penyebab dari serangan itu sedang diselidiki,” katanya.

Karachi, satu kota berpenduduk 18 juta jiwa, menyumbang 42 persen pendapatan kotor domestik Pakistan tetapi dilanda pembunuhan dan penculikan dan aksi kekerasan etnik, sektarian dan politik selama bertahun-tahun. (MARD/Ant)