Kritikus: Kualitas Dosen dan Mahasiswa Indonesia Lebih Bagus

Foto: Panoramio

Denpasar, Sayangi.com –  Kritikus tari dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Sal Murgiyanto memuji kualitas dosen dan mahasiswa seni di Indonesia yang dinilainya lebih bagus dari negara lain.

“Namun sebagai institusi, pendidikan tinggi sangat lemah karena pengelolaannya yang tidak sesuai tuntutan zaman dan tantangan global,” katanya dalam orasi ilmiah Dies Natalis X dan Wisuda Sarjana Seni XI Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Minggu (28/7).

Dalam orasi ilmiah berjudul “Mengukir Prestasi di Era Globalisasi ISI Denpasar Menuju Pusat Unggulan Seni Budaya”, dia mengemukakan bahwa kondisi perguruan tinggi di Indonesia itu juga berlaku bagi ISI Denpasar.

Pihaknya selama 18 tahun mengajar di Program Pascasarjana Taipei National University of the Arts (TNUA) dan lebih dari sepuluh kali terlibat dalam kegiatan pertukaran budaya Taiwan-Bali mengundang seniman, praktisi, dan pemikir dari Bali. Separuh lebih dari seniman yang terlibat adalah pengajar, mahasiswa, atau alumni ISI Denpasar antara lain Ketut Kodi, Gusti Sudarta, Prof I Wayan Dibia, I Nyoman Chaya, Ketut Saba, dan Nengah Mulyana.

Ketertarikan TNUA terhadap seni pertunjukan Indonesia terlihat dari dua set gamelan yang dimilikinya yakni Angklung Bali dan barungan Slendro-Pelog Jawa. Namun secara institusional tidak satu pun perguruan tinggi seni di Indonesia yang menindaklanjuti hubungan kerja sama itu.

“Jadi masalahnya, bagaimana secara institusional mampu mempersatukan semua daya dan menggunakannya untuk melakukan kerja maksimal bagi pembangunan bangsa,” katanya.

Sal Murgiyanto menjelaskan bahwa sebuah perguruan tinggi berkembang baik jika didukung lingkungan yang kondusif untuk melaksanakan tiga misi utamanya, meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Setidaknya ada empat faktor yang bisa digunakan untuk mengukur keberhasilan sebuah perguruan tinggi, yakni kebebasan akademik, otonomi perguruan tinggi, dukungan pemerintah, dan akuntabilitas publik.

Kebebasan akademik merupakan nilai inti sebuah perguruan tinggi. mengutip ungkapan Satryo Sumantri Brodjonegoro, guru besar ITB dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (1999-2007) bahwa penempatan perguruan tinggi negeri (PTN) sebagai unit Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyebabkan posisi-nya tidak bebas.

Gagasan sebagai ciri kaum intelektual tidak bisa berkembang bebas karena adanya berbagai batasan kepentingan non-akademis. Kondisi itu sangat berbeda dengan di Amerika Serikat di mana perguruan tinggi swasta memiliki kebebasan akademik dan otonomi penuh.

“Oleh sebab itu saya mencari bandingan sebuah universitas seni di Asia, yakni TNUA yang semula bernama NIA, National Insitute of the Arts sekalipun didanai oleh pemerintah tetapi memiliki otonomi dan kebebasan akademik yang cukup luas, ujar Sal Murgiyanto. (HST/ANT)