Ngabuburit Asyik di Menara Kembar Masjid Raya Bandung

Foto: bisnis-jabar.com

Bandung, Sayangi.com – Menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit dengan melihat keindahan panorama kota dari menara masjid menjadi tradisi yang berkembang di sejumlah daerah di Bandung. Di Bandung tempat ngabuburit tersebut adalah menara kembar Masjid Raya Bandung. Tidak heran jika menara kembar ini menjadi salah satu tempat favorit ngabuburit di kota Bandung.

Umumnya mereka ingin menikmati panorama kota Bandung dari menara kembar setinggi 86 meter. Dari lantai 19, dimana menara masjid kembar berada, terhampar pemandangan Kota Bandung ke segala arah. Jika cuaca sedang cerah, panorama yang tersaji sangat mengesankan. Hamparan gunung yang mengelilingi Bandung bisa terlihat jelas. Sedangkan bangunan dan rumah-rumah akan terlihat kecil seperti mainan rumah-rumahan. Untuk naik ke sana, harus menunggu giliran lift yang kapasitas hanya 15 orang.

Daya tampung di puncak menara adalah 70 orang. Setiap pengunjung hanya punya kesempatan selama 15 menit untuk memanjakan pandangannya karena banyak orang yang datang untuk menikmati langit menjelang senja.

Harga tiket untuk naik ke menara pun terjangkau kantong. Turis asing dikenai tarif Rp 5.000, sementara masyarakat dewasa harus membayar Rp 3.000. Sementara anak-anak dan balita harus membayar Rp 2000,-. “Di menara selatan rata-rata pengunjung berkisar 150-200 orang per hari,” kata petugas masjid, Irwan Sujana.

Dahulunya, Masjid Raya Bandung ini memiliki arsitektur bergaya Sunda dan desain arsitektur yang sekarang didesain oleh 4 perancang yang berasal dari Bandung, yaitu Ir. H. Keulman, Ir. H. Arie Atmadibrata, Ir. H. Nu’man, dan Prof. Dr. Slamet Wirasonjaya. Dahulu kala, masjid ini dibangun dari meterial yang sederhana, seperti kayu, anyaman bambu, rumbia, dan ada juga kolam besar sederhana untuk mengambil wudhu. Air di kolam ini juga berfungsi sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di sekitar alun-alun Bandung pada tahun 1825.

Setahun setelah kebakaran, pada tahun 1826, masjid ini mengalami perombakan dan mengganti dinding beserta atap dari bambu menjadi dari kayu. Dan pada tahun 1850, atap mesjid diganti menjadi genteng dan temboknya dibuat dari batu bata. Pada tahun 1955 saat konferensi Asia Afrika berlangsung di Bandung, dilakukanlah perombakan besar-besaran, dan atap masjid yang tadinya berbentuk seperti joglo diubah menjadi kubah bergaya Timur Tengah. Lalu pada perombakan terakhir di tahun 2001, ditambahkanlah dua menara kembar setinggi 81 meter. Tadinya, tinggi menara ini akan dibuat sekitar 99 meter, tapi setelah ditinjau ulang akhirnya menjadi 81 meter saja. Selain dari kota Bandung, banyak warga dari daerah lain yang sengaja datang mengisi waktu diatas menara kembar. (FIT/berbagai sumber)

 

Berita Terkait

BAGIKAN