Tradisi Meriam Karbit di Pontianak

Foto: Antara

Pontianak, Sayangi.com – Menjelang takbiran tiba, Sungai Kapuas Pontianak akan begitu marak dengan hadirnya festival atau parade Meriam Karbit. Sebuah tradisi turun temurun yang berasal dari masyarakat Melayu Pontianak terdahulu.

Sejatinya, tradisi ini adalah sebuah ritual menembakkan meriam ke daratan yang pernah dilakukan oleh pendahulu dari Kasultanan Pontianak. Tujuannya adalah untuk mengusir hantu kuntilanak yang konon banyak bergentayangan di sekitar Kasultanan saat itu. Namun kemudian tradisi tersebut dilakukan oleh para warga secara turun temurun dan berkembang menjadi sebuah tradisi hingga festival. Tercatat di tahun 2007 silam, tradisi ini mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia.

Jika pada masa Kesultanan dulu, tradisi Meriam Karbit ini dilakukan setiap hari sepanjang Ramadhan dan menjadi pertanda berbuka puasa dan waktu sahur, maka sekarang hanya dilaksanakan saat malam takbiran hingga 3 hari setelah lebaran. Meriam Karbit pada umumnya terbuat dari bahan gelondongan kayu besar yang dilubangi dan diruas-ruas dan diisi dengan karbit dan disulut dengan api di salah satu sudutnya. Setidaknya harga pembuatannya mencapai 1 juta lebih, dan untuk festival tersebut biasanya warga dari masing-masing RT rela untuk urunan.

Masyarakat Pontianak mulai memenuhi Sungai Kapuas saat hari terakhir berpuasa. Beberapa kelompok orang dari kalangan RT yang berbeda sudah bersiap meletakan meriam-meriam uniknya disepanjang pelataran Sungai Kapuas. Dan saat waktu berbuka puasa tiba, meriam-meriam tersebut pun akan dibunyikan sepanjang malam dengan cara bergiliran. (HST)