Tradisi “Baku Tendang” Jelang Lebaran di Wakatobi

Foto: Picasaweb.Google

Wakatobi, Sultra, Sayangi.com – Sumber keunikan budaya Indonesia memang tak ada habisnya. Tengok saja tradisi Posepa’a yang digelar masyarakat Wakatobi – Sulawesi Tenggara menjelang Hari Raya Idul Fitri. Aksi baku tendangan oleh sejumlah pemuda di lapangan Benteng Liya kecamatan Wangi-Wangi tersebut malah menjadi tontonan menarik yang digelar setiap tahunnya.

Posepa’a merupakan seni budaya tradisional yang diwarisi turun temurun oleh lingkungan Benteng Keraton Liya Wakatobi. Yaitu sekelompok laki-laki yang saling berhadapan, memegang tangan anggota kelompoknya, dan saling menendang. Aksi ini bukan pura-pura semata, aksi serius ini terkadang bahkan menuai ruam pada kaki peserta.

Nama Posepa’a sendiri lahir dari bahasa masyarakatnya yang berarti baku tendang atau adu kaki. Jika dulu tradisi ini dilaksanakan setiap hari di bulan Ramadhan, tepatnya menjelang buka puasa, maka sekarang tradisi ini lebih dibentuk menjadi sebuah festival adat  yang dilaksanakan menjelang lebaran atau bahkan setelah lebaran.

Aturan tradisi Posepa’a tidak diperkenankan memukul dengan tangan, dan tidak ada pemenang dalam adu tendang ini. Jika dirasa terlalu keras, maka ketua adat Liya akan menghentikan adu fisik tersebut, dengan dilanjutkan acara saling meminta maaf antar peserta, agar tidak ada dendam. Warga suku Liya Wakatobi percaya, tradisi Posepa’a harus dilestarikan karena dapat bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan dan melestarikan budaya saling memaafkan.

Sebelum aksi Posepa’a dimulai terlebih dahulu ditampilkan tari perang oleh pemangku adat suku Liya Wakatobi, yang disebut dengan tari Honari Mosega. Konon tarian tersebut merupakan simbol perang melawan hawa nafsu saat Ramadhan. (HST)