Tradisi Mudik Dinilai Bisa Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Desa

Padang, Sayangi.com – Pengamat Ekonomi Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Sumatera Barat, Dr Syafrizal Chan menilai tradisi mudik Lebaran merupakan suntikan bagi perekonomian desa (nagari adat) dari masyarakat kota.

“Daerah semestinya memanfaatkan peluang tradisi mudik Lebaran itu guna menggerakkan perekonomian di desa, karena perputaran uang dalam kurun waktu sekitar sebulan relatif tinggi,” kata mantan Direktur Pasca Sarjana UBH Padang ini di Padang, Senin (29/7/2013).

Dampak terhadap perekonomian desa dari para perantau yang mudik itu, kata dia, di antaranya pada transaksi di warung-warung, pasar ketika mereka berbelanja, dan penginapan dan objek wisata. Dengan begitu jelas dia, selama arus mudik terjadi distribusi pendapatan dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karenanya daerah harus bisa membuat bagaimana perantau bisa berbelanja lebih banyak.

Selain itu, tak kalah pentingnya uang yang mengalir ke desa dari masyarakat kota tersebut, semestinya harus tertahan di desa dalam artian masyarakat desa jangan konsumtif.

“Dana yang banyak diperoleh masyarakat desa dari perantau, sebaiknya dapat menjadi suntikan modal untuk usaha yang produktif,” ujarnya.

Salah satu contohnya misalnya dengan mengembangkan usaha berternak sapi atau budidaya perikanan serta berdagang dan lainnya, bukan untuk konsumtif membeli kendaraan sepeda motor dan berbelanja perlengkapan rumah tangga lainnya. Jika masyarakat konsumtif, perputaran dana yang mengalir dari perantau setiap tahunnya akan lari keluar desa tersebut, dan dampaknya kata dia, tidak akan terlihat.

“Tradisi mudik merupakan fenomena ekonomi berulang setiap tahunnya dan sesuatu yang bagus, karena dinilai kehidupan orang di kota lebih baik dari masyarakat desa,” ujarnya.

Dijelaskan, setiap perantau yang mudik ke kampung halamannya biasanya membawa uang dan barang-barang yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan jumlah tidak sedikit. Kemudian para perantau yang mudik berbagai latarbelakang profesi dan usaha, makanya peluang ini harus dimanfaatkan juga bagi daerah untuk menawarkan investasi terhadap potensi yang di daerah.

Dalam kasus mudik di Sumbar, dia pemerintah kabupaten dan kota juga perlu mempersiapkan penawaran investasi yang dapat menjadi daya tarik bagi perantau untuk menanamkan modalnya. Sebab, tidak perantau mengenal lebih dalam tentang potensi daerah atau kampung halamannya, sehingga pemerintah perlu mengekspose saat mereka mudik.

“Kalau ada perantau yang investasi, jelas memberi dampak pergerakan ekonomi secara berkelanjutan jangka panjang dan membuka lapangan pekerjaan di daerah,” ujarnya.

Tradisi mudik juga dapat menjadi motivasi bagi generasi di kampung untuk dapat giat belajar dan dapat pula merantau sehingga menjadi sukses. (MI/Ant)