Djoko Santoso Usulkan Palembang Sebagai Pusat Kebudayaan ASEAN

Foto: http://indonesianspaceresearch.blogspot.com/

Palembang, Sayangi.com – Ketua Dewan Pembina Lembaga Indonesia Asa, Jenderal TNI (Purnawirawan) Djoko Santoso, mengusulkan Palembang diperjuangkan menjadi pusat kebudayaan ASEAN.

Hal ini tidak berlebihan karena Palembang memiliki latar belakang sejarah yang hebat dan berwilayah dilingkup negara-negara ASEAN.

“Kerajaan Sriwijaya yang berjaya pada abad ke-7 menguasai kawasan ASEAN,” kata Djoko saat mengunjungi Ketua Himpunan Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, Iskandar Mahmud Badaruddin, di Sekip, Palembang, Minggu lalu (21/7).

Menurut Djoko, catatan-catatan sejarah yang ada mengenai pengaruh kebudayaan Melayu di negara-negara ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam bahkan sampai Filipina merupakan bukti yang tak terbantahkan. Jadi, sangat tepat jika Palembang dijadikan sebagai pusat ASEAN.

“Kita harus memerjuangkan itu. Pada abad ke-7 Sriwijaya membawa kejayaan bangsa, kejayaan muncul kembali pada abad ke-14 ketika masa Kerajaan Majapahit dan kini abad ke-21 bangsa Indonesia kembali akan memasuki kejayaannya kembali,” kata Djoko.

Sebagaimana pula diketahui dalam sejarah Melayu, seorang kesatria yang dikenal dengan nama Sang Nila Utama (Parameswara) turun dari Bukit Seguntang Palembang (abad 13 akhir) sangat berpengaruh di tanah Melayu. Disebutkan dalam sejarah, dialah pula yang mengubah nama Temasek menjadi Singapura dan kemudian membangun kampung nelayan kecil menjadi Bandar Melaka yang termashur. Sang Nila Utama kemudian diyakini sebagai nenek moyang raja-raja di walayah Melayu.

Sementara itu, Iskandar juga menyampaikan harapan kepada Djoko yang bekas panglima TNI itu, agar membantu upaya revitalisasi Benteng Kuto Besak (BKB) sehingga dapat difungsikan sebagai asset wisata sebagaimana layaknya benteng peninggalan budaya di tempat-tempat lain.

BKB yang saat ini dikuasai oleh militer merupakan Kuto (Benteng) terakhir Kesultanan Palembang yang di dalamnya terdapat istana Sultan Palembang. Tetapi sejak Belanda membubarkan Kesultanan Palembang dan digantikan menjadi Kresidenan pada 1824 Kuto tersebut dikuasai Belanda. Lalu pada masa republik dijadikan markas para pejuang hingga menjadi kantor dan pemukiman tentara sampai sekarang.

Kuto Besak (BKB) digagas oleh pada 1780 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) atau dikenal dengan Jayo Wikramo, yang mendirikan Keraton Kuta Lama pada 1737. Berproses dan diselesaikan pada masa Sultan Muhammad Bahauddin (ayah Sultan Mahmud Badaruddin II). (VAL/ANT)