Ketua Fraksi Gerindra: Ahok dan Lulung Berteman ….

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta, M. Sanusi menyebut perseteruan Wagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana (Lulung) hanya akibat “perbedaan persepsi” saja.

Kata Sanusi, wajar apabila ada perbedaan. Lagi pula, lanjut Sanusi, bapak Ahok dan Lulung itu sebenarnya berteman. “Orang demo juga ‘kan biasa, dia pasti ingin menunjukkan diri. Orang demo pasti minta perhatian, makanya wajib ditemui. Didengarkan apa keluhannya. Kalau kurang jelas, diperjelas. Kalau harus minta maaf ya minta maaf,” kata anggota DPRD Komisi D DKI Jakarta itu, saat ditemui wartwan di Gedung DPRD DKI, Selasa (30/7).

Masih kata Sanusi, warga Jakarta sebenarnya belum bisa menerima perbedaan watak dan karakter dua pemimpin yang berbeda. Perbedaan harus dipahami esensinya, dan perbedaan karakter tidak harus disalahkan karena wataknya yang tidak sama.

“Kerasnya Ahok itu ya jangan selalu dikotomi sebagai arogansi. Yang terpenting itu esensinya. Jangan langsung ditanggapi brutal, ini yang arogansi. Memang ada benarnya, kalau punya tujuan baik dengan penyampaian tidak baik, bisa jadi persepsi berbeda. Tapi kalau menurut saya, Pak Wagub mestinya pelan-pelan dan mengerti bagaimana caranya mengarahkan warga,” ucapnya.

Lanjut Sanusi, karakter itu bawaan, bahkan bisa dibilang menjadi sifat. Maka, untuk memperbaiki karakter itu sangat sulit dan susah, karena sama halnya dengan mengubah karakter seseorang ke karakter orang lain, alias menjadikan seseorang jadi orang lain.

“Karakter Pak Ahok itu ‘kan karakter biasa. Itu bukan arogan, tapi sejak dulu tidak pernah ada karakter Gubernur atau Wagub seperti dia, lebih lantang, lebih tegas. Padahal, kerasnya dia keras benar. Di Belitung enggak ada yang komplain soal cara ngomong Ahok. Karena itu pembawaan. Kalau kita yang katanya menghargai kemajemukan, maka hargai jugalah Wagub,” lanjutnya.

“Apabila kultur orang Betawi meminta Ahok berubah pelan-pelan, kalau bisa dengan sendirinya dia akan berubah dengan cara pelan-pelan juga,” imbuh Sanusi.

“Karakter dia itu dari kecil lo, mau diubah gimana wong itu pembawaan, susahlah. Membangun Jakarta tidak bisa asal yes no, harus dengan tangan keras, profesional, dan persuasif. Jadi tidak boleh lembek, itu membutuhkan kerja keras,” pungkasnya. (MSR)