Said Agil Sebut Hatta Rajasa Tidak Mendidik Anak dalam Hal Berlalu-lintas

Foto : Sayangi.com

Jakarta, Sayangi.com – PBNU, lewat Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) bekerja sama dengan Korp Polisi Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Polri menggelar Seminar Nasional bertajuk “Benarkah Kecelakaan Lalu Lintas Itu Nasib? Kampanye Keselamatan Berlalui Lintas Melalui Institusi Keluarga di Aula PBNU Lantai 8, Jakarta Pusat, Selasa (30/7).

Hadir dalam acara itu sejumlah narasumber, antara lain Kepala Korlantas Polri Irjen (Pol) Pudji Hartono, Ketua Umum PBNU KH. Said Agiel Siradj, Ketua Umum PGI Pdt. Dr. A.A. Yewangoe, Ketua Umum PWI Margiono, Plt Ketua Umum Walubi Arief Harsono, Ketua Umum PHDI Nyoman Suwisma, dan Ketua Umum MATAKIN Wawan Wiratma.

Acara ini diselenggarakan sebagai komitmen agamawan dalam kampanye kesadaran berlalu lintas melalui instansi keluarga.

Dalam pandangan Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Pudji Hartono, penyebab karut-marutnya lalu lintas karena adanya infrastruktur jalan raya yang kurang memadai, jalan yang kurang baik dan berlobang, adanya rambu-rambu lalu lintas yang minim, dan juga penerangan jalan yang minim.

“Selain itu, juga disebabkan adanya kendaraan tua yang masih dioperasikan, tonase muatan yang berlebihan, penumpang melebihi kapasitas, adanya banyak parkir liar di jalan yang mengganggu pengendara lain, orang menyeberang bukan pada tempat penyeberangan,” tandas Pudji.

Selain itu ada yang memodifikasi kendaraannya sehingga aero-dinamisnya tidak diperhitungkan. Maka Pudji menghimbau pemilik kendaran tidak memodifikasi dan memberi asesoris kendaraan dengan menyalahi aturan dan ketentuan umum, selain juga mengetahui cara berkendaraan yang baik dan benar.

“Sekarang itu banyak halte bus hanya dijadikan hiasan saja, bahkan tempat jualan pedagang kaki lima, dan jarang yang memanfaatkannya untuk tempat menaikan dan menurunkan penumpang, kecuali di halte bus Transjakarta,” tutur Pudji.

Sedangkan Ketua PBNU Said Agil Sirad, menghimbau adanya kerjasama orang tua dalam memberikan pemahaman, pembekalan, pendidikan bagi kaum muda dalam berkendaraan dan berlalu lintas.

“Artinya juga orang tua tidak menjadi pembela anak apabila anak melanggar dalam berlalu lintas, karena dengan cara seperti inilah, anak tidak akan lagi lalai dalam berkendaraan,” papar Agil Siradj.

“Seperti kasus kecelakaan yang melibatkan anak Menteri Koordinator Perekonomian, saya menilai orang tua tidak melakukan pendidikan kepada anak, tapi membela mati-matian,” jelas Ketua PBNU, Said Agil Siradj. (MARD).