Diskusi Pemuda: Gerakan Kepemudaan Harus Merespon Tantangan Zaman

Foto: Emil Sayangi.com

Jakarta, Sayangi.com – Ketua Umum DPP Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK) Bursah Zarnubi menyatakan, gerakan pemuda hari ini semakin merosot dan kualitasnya terus menurun, maka harus dilakukan koreksi internal organisasi yang diisi kaum muda untuk merespon perkembangan zaman.

“Topik kepemudaan menarik untuk dibahas, karena perkembangan zaman begitu cepat, dan informasi saat ini mudah dicerna. Di ujung utara dalam 1 detik bisa diketahui di selatan, demikian sebaliknya. Teknologi ini mengubah perilaku, dan pandangan politik, ideologi bahkan mengubah pakaian dan tradisi,” jelas Bursah dalam Diskusi Pemuda Bicara “Mencari Paradigma Baru Kepemimpinan Pemuda” di Sekretariat PB HMI, Jakarta, Selasa (30/7/2013) sore.

Karena itu, tambah dia, sebagai satu keniscayaan, globalisasi yang ditopang media sosial tidak bisa ditolak, tapi perlu diikuti dan dicermati.

“Pemuda harus cepat merespon isu-isu sosial terbaru,” harap Bursah yang juga mantan Ketua Umum HMI Cabang Jakarta.

Karena itu, menurut dia, anak muda perlu mengevaluasi fungsi organisasi dan kualitas tokoh-tokohnya. Ia menghimbau aktivis muda saat ini perlu menyinergikan pandangan dan memperkuat barisan organisasi.

“Tidak mungkin sendiri bisa melakukan perubahan bagi perbaikan bangsa. Bersatu saja kadang masih sulit,” cetus pria asli Lahat, Sumatera Selatan itu.

Bursah menjelaskan, tahun 1928 pemuda berhasil merumuskan persatuan bangsa, bahasa, dan cita-cita nasional. Pada 1945 kaum muda mampu merumuskan Proklamasi, 1965 motor gerakan anti komunis, dan tahun 1998 menjadi lokomotif gerakan reformasi.

“Nah, sekarang apa agenda yang diusung pemuda?” tanya Bursah.

Moderator diskusi, Lendy Octapriyadi, yang juga Pengurus Besar HMI (PB HMI) merespon pertanyaan Bursah Zarnubi dengan menyatakan anti korupsi sebagai isu utama pemuda hari ini.

Senada dengan Bursah, Arief Rosyid, Ketua Umum PB HMI 2013-2015 mengatakan, aktivis saat ini harus mencari paradigma baru kepemimpinan pemuda. Dikatakan dia, hampir semua perubahan di Indonesia dan dunia, pemuda lah yang menjadi aktor utamanya.

“Model pemuda itu jadi penting. Sejarah telah membuktikan pemuda telah menggerakkan dunia. Kita refleksikan masing-masing, apakah akan bisa mengulangi seperti gerakan sebelumnya? Potensi anak muda di seluruh dunia hampir sama. Saya kira di situ letak keadilan Tuhan. Tantangan dan perkembangan zaman berbeda, untuk itu pilihannya adalah berakselerasi,” papar Arif.

Diskusi pemuda ini juga dihadiri Supriadi Narno, Ketua Umum PP Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Ketua I PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Syukur Mandar perwakilan DPP KNPI kubu Ketua Umum Taufan R, Sahat Sinaga. SH, M.Kn alumni GMKI. 

Supriadi Narno, Ketua Umum PP Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) mengaku suasana diskusi seperti ini banyak dirindukan anak bangsa dari Sabang-Marauke.

“Saya setuju jika korupsi menjadi musuh bersama kita saat ini. Potensi kebangsaan kita gagal karena kurang konsolidasi merespon isu-isu besar yang dialami negara ini,” ujarnya.

Menurut Supriadi, generasi revolusioner perlu disiapkan, agar cita-cita kebangsaan kita menjadi bangsa kuat terwujud. Ia menyebut, pemuda menjadi bagian penting dalam proses itu.

“Untuk itu, keteladanan moral dari kita masing-masing dibutuhkan,” harapnya.

Ketum GMKI ini juga mengkritik dunia pendidikan saat ini. Menurut dia, anak TK dan SD disiapkan untuk menjadi pemimpin Indonesia 40 tahun lagi.

“Namun celakanya proses pembelajaran politik dan demokrasi kita sudah dicekokin pertanyaan-pertanyaan seperti, itu Cagub, Capres suku dan agamanya apa? Ini salah satu pembelajaran politik negatif bagi calon pemimpin di masa depan,” ujarnya kesal. (VAL)