Djoko Santoso Kunjungi Klenteng Kwan Sing Bio

Foto: sayangi.com/ami

Tuban, Sayangi.com – Jenderal TNI (Pur) Djoko Santoso Selasa (30/7) malam menghadiri acara di Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur, dan berbaur dengan ribuan warga yang merayakan upacara tahunan peringatan kelahiran Kongco Kwan Sing Tee Koen.

“Saya sampaikan terima kasih kepada pengurus rumah peribadatan Kwan Sing Bio di Tuban ini yang telah banyak membantu dan memberi perhatian kepada warga sekitar,” kata Djoko Santoso saat didaulat untuk memberi sambutan dalam acara yang berlangsung meriah tersebut.

Djoko Santoso menambahkan kehadirannya dalam acara peringatan kelahiran Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1851 itu untuk menunjukkan bahwa siapapun di Indonesia harus menghargai keragaman kebudayaan dan kepercayaan yang dianut masyarakatnya. Apa lagi klenteng di tepi pantai Tuban itu yang terbesar di Asia Tenggara.

Ditambahkannya, sebagai Ketua Dewan Pembina Lembaga Indonesia Asa, gerakan yang dideklarasikannya di Jakarta pada 20 Mei 2013, Djoko Santoso menilai penting kunjungannya ke klenteng Kwan Sing Bio sebagai wujud penerapan sikap adil karena keadilan harus diterapkan kepada siapa pun termasuk mereka yang berbeda keyakinan.

Liem Tjeng Gie, ketua penilik rumah peribadatan Tri Dharma Kwan Sing Bio, menyatakan gembira dengan kesediaan Djoko Santoso untuk turut hadir dalam peringatan hari penting bagi umat Tri Dharma di Tuban tersebut. “Kami gembira dan bahagia Pak Djoko bersedia datang,” katanya.

Kehadiran Djoko Santoso dalam acara yang dihadiri ribuan umat Kong Hu Cu, Tao dan Buddha, dari berbagai kota di Indonesia dan bahkan luar negeri itu dinilai Liem sebagai bentuk pengakuan Panglima TNI 2007-2010 akan keragaman suku dan budaya di Indonesia. “Kita boleh berbeda keyakinan, tapi sebagai bangsa kita harus bersatu,” katanya.

Liem menambahkan sebagai mantan Panglima TNI, Djoko Santoso tentu mengetahui benar bahwa upaya menjaga keamanan adalah tugas seluruh anak bangsa, bukan hanya pihak keamanan. Salah satu upaya memelihara keamanan itu ialah lewat menjaga keharmonisan hubungan antar-suku dan budaya di Indonesia.

Acara peringatan kelahiran Konco Kwan Sing Tee Koen ke-1851 itu berlangsung hingga tengah malam dan diisi pula dengan acara hiburan dengan penampilan pasangan artis penyanyi Anang dan Ashanti dari Jakarta, Jian Lang dari China dan Hu Hui Yun dari Malaysia.

Tempat ibadah Tridarma Kwan Sing Bio dibangun pada abad ke-7 dan banyak diziarahi umat terutama pada hari libur kalender Imlek Cina dan ulang tahun Kwan Thai Ping Tjoe, Kwan Sing Tee Koen, dan Pjong Tiang Tjoe Koen.

Klenteng yang dibangun pada abad ke-7 di Tuban ini dikenal paling unik di dunia karena satu-satunya klenteng yang simbolnya berupa kepiting raksasa di pintu masuknya. Klenteng-klenteng di seluruh dunia biasanya memiliki simbol berupa naga ataupun burung merak.

Siapa sebenarnya Kwan Sing Tee Koen? Menurut catatan sejarah, beliau adalah putera Kwan Sik Poan alias Kwan Boen Tjie. Beliau yang memiliki nama asli Kwan Le alias Kwan In Tiang dilahirkan pada Emlek 24 Lak-Gwee 713 (162 M) di Kota Kai Tjiu, Provinsi San See. Kemudian wafat pada Imlek 871 (220 M).

Semasa hidupnya, pada masa pra Sam Kok (221-264 M) atau menjelang akhir dinasti Han, beliau adalah seorang Panglima Perang dan Pahlawan Agung yang selalu menjunjung tinggi kebenaran.

Itu sebabnya, pada zaman dinasti Song/ Sung (960-1279 M) beliau dipuja sebagai Dewa Taois di Kuil Yam Auw, di tepi danau tempat kelahirannya. Kemudian pada dinasti Gwan/ Yuan (1271-1368 M), beliau dipuja sebagai Dewa Kemakmuran di Kuil Gwat Sia, Peking.

Pada masa dinasti Tjeng/Ching (1644-1911 M), beliau disucikan dengan gelar Tee sebagai penguasa suci langit selatan. Pada era republik (1911-1949 M), Presiden Wan Si Kai mewajibkan para prajuritnya untuk melakukan sumpah militer di Kuil Pahlawan yang altarnya terdapat Kongco Kwan Kong yang oleh warga keturunan di Indonesia mengenalnya sebagai Kongco Kwan Sing Tee Koen.

Terlepas dari semua itu, yang pasti Kongco Kwan Sing Tee Koen yang ada di altar Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban sering dipuja oleh kebanyakan warga Tionghoa yang tersebar di Indonesia. (RH/ANT)