UNICEF Serukan Perang Melawan Kekerasan Terhadap Anak

Ilustrasi: UNICEF

New York, Sayangi.com – Badan Dana Anak PBB (UNICEF), Selasa (30/7), mengumumkan gagasan yang mendesak warga, anggota parlemen, dan pemerintah untuk berbicara lebih keras guna membantu melawan kekerasan terhadap anak-anak.

Gagasan tersebut berpangkal dari kemarahan yang meningkat di kalangan rakyat, yang telah meletus setelah serangkaian serangan terhadap anak kecil, seperti penembakan pada Oktober 2012 terhadap anak perempuan yang berusia 14 tahun di Pakistan, Malala Yousufzai. Selain itu juga terjadi penembakan 26 murid dan guru di Newtown, Negara Bagian Connecticut di AS, pada Desember 2012, dan perkosaan massal atas beberapa anak perempuan di India dan Afrika Selatan pada 2013.

“Di setiap negara, pada setiap kebudayaan, ada kekerasan terhadap anak kecil,” kata Direktur Pelaksana UNICEF Anthony Lake sebagaimana dilaporkan Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu. “Kapan saja dan di mana anak-anak terancam, kemarahan dan kegeraman kita harus terlihat dan terdengar. Kita harus membuat apa yang tertutup jadi terungkap.” Itu adalah pesan yang menjadi dasar saat UNICEF meluncurkan gagasan “End Violence Against Children”. Gagasan tersebut mendesak rakyat di seluruh dunia agar mengenali kekerasan terhadap anak kecil, bergabung dengan gerakan lokal, nasional atau global guna mengakhirinya, dan mempersatukan gagasan baru guna memusatkan perhatian pada aksi bersama mengenai sasaran itu.

“Kita memiliki kekuatan untuk memerangi kekerasan sekarang,” kata badan PBB tersebut.

Gagasan itu diungkapkan dengan video yang suaranya diisi oleh Duta Besar Muhibah UNICEF Liam Neeson –yang mengajak pemirsa melalui serangkaian adegan yang menggambarkan kekerasan yang tidak terungkap.

“Cuma karena kalian tak bisa melihat kekerasan terhadap anak kecil tak berarti itu tidak ada,” kata Neeson. “Jadikan ini kasat mata. Bantu kami membuat kekerasan terhadap anak kecil hilang. Bergabung dengan kami. Bicara lah!” Perlunya untuk melakukan tindakan kolektif digaris-bawah bahkan oleh data statistik terbatas, yang merujuk kepada besar dan luasnya kekerasan.

Sebanyak 150 juta anak perempuan dan 73 juta anak lelaki yang berusia 18 tahun, misalnya, mengalami eksploitasi dan kekerasan seksual, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu, sebanyak 1,2 juta anak diselundupkan setiap tahun, demikian laporan 2005 oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO).

Kekerasan bukan hanya menimbulkan luka fisik tapi juga meninggalkan luka mental pada anak-anak, kata UNICEF. (HST/ANT)