Ali Masykur Musa: Kaum Muda Harus Ambil Bagian di 2014

Foto: Sayangi.com/Emil Ondo

Jakarta, Sayangi.comDr. Ali Masykur Musa, M.Si, M.Hum, Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI menampik bahwa gerakan Ali Masykur Musa (AMM) Berdedikasi, yang didirikannya bersama sejumlah aktivis, jurnalis, akademisi, karyawan swasta, dan seniman itu digunakan untuk nyapres. Ia hanya ingin mengabdi untuk negara dengan konsentrasi membangunkan pemuda dari ketertinggalannya dan bangkit mengembalikan kedaulatan bangsa. Berikut petikan wawancara yang dihimpun wartawan Sayangi.com, Nur Fitriana.

Sebenarnya apa sih yang ingin Anda dengungkan dari gerakan AMM berdedikasi?

Satu hal yang sedang hilang di kalangan masyarakat kita, khususnya anak muda Indonesia adalah keberanian dan meneruskan semangat untuk berjuang. Itu yang ditandai dengan anak muda sekarang yang hedonis dan individualis. Ini bertolak belakang dengan sejarah bangsa ini dimana hampir seluruh perubahan di Indonesia diawali oleh anak-anak muda yang aktif berjuang. Dalam posisi seperti ini, kami melakukan gerakan mendorong anak-anak muda untuk melakukan pergerakan baru di negara yang kita cintai ini. Saya menyebut gerakan ini adalah gerakan AMM Berdedikasi dengan taglinenya ayo bergerak.

Bergeraknya seperti apa?

Bergeraknya itu harus tiga tataran. Dari segi psikologisnya harus dirubah, sikap anak muda yang individualis yang hanya mementingkan kesenangan sesaat yang tidak mempunyai jiwa kebersamaan itu harus dirubah sehingga melahirkan suatu gerakan anak muda untuk mengembalikan etos kebersamaan dan kebangsaan menjadi bagian dari sikap perilaku anak-anak muda sekarang. Itu yang pertama. Yang kedua, tataran visioner. Bahwa negara Indonesia ini kedepan akan lebih besar manakala sebagai generasi penerus dan penerima estafet bangsa memiliki jiwa kepejuangan.

Suka tidak suka, secara alami itu anak muda kan yang akan meneruskan negara ini. Kedepan, jika pemimpin tidak memiliki visi, maka negara ini akan menjadi kering. Akan melahirkan suatu sikap yang formalitik saja dalam bernegara, tidak ada ruh dalam benegara. Yang ketiga adalah bergerak mengembalikan kedaulatan bangsa terutama dalam hal ekonomi. Yang mana saat ini negara kita sangat menjadi subordinat dari kepentingan asing yang menguasai aset dan akses ekonomi dalam negeri. Dengan tiga gerakan ini maka saya meyakini, inilah kunci untuk Indonesia bangkit dari kemunduran sikap kebangsaan dan sikap nasionalisme yang mulai luntur. Itu yang menjadi striking force atau daya dobrak, menurut saya dimulai dari anak-anak muda.

Bentuk kedaulatan nasionalnya harus seperti apa?

Sebetulnya ada dua dimensi. Kedaulatan dalam aspek teritorial yang berarti tidak ada satupun sejengkal tanah yang bisa diambil alih oleh kepentingan asing atau land use geographic – nya tetap. Tetapi kedaulatan juga dalam arti non geografik lebih banyak pengambilan kebijakan khususnya dalam bidang ekonomi. Di Indonesia, hari ini hampir seluruh aset ekonomi baik itu dibidang migas, mining (pertambangan) dan juga palm oil juga banyak dikuasai asing. Boleh jadi asetnya di Indonesia tetapi kepemilikannya bukan masyarakat Indonesia. Ini yang harus dikembalikan.

Lalu apa makna kedaulatan menurut Anda?

Yang pertama, di dalam geografisnya tidak boleh ada campur tangan asing. Yang kedua, dalam arti kebijakan, maka kedaulatan itu di dalam pengambilan keputusan dan penguasaan akses dan aset penguasaan ekonomi Indonesia itu harus benar-benar menjadi milik bangsa Indonesia. Karena dari dua dimensi tadi, ujungnya adalah mepercepat kesejahteraan rakyat. Nah, kaum muda harus punya peran dalam pengembalian kedaulatan bangsa, terutama dalam hal ekonomi.

Lantas, langkah apa yang harus ditempuh oleh kaum muda untuk memegang kendali ekonomi bangsa?

Langkah pertama menurut saya, anak-anak muda harus diajari dalam jiwa enterpreunership karena kalau tidak akan tumbuh jiwa teknokrat atau kalau orang jawa bilang, priayi yang tidak mempunyai semangat untuk maju lebih cepat. Enterpreunership itu kan salah satu cirinya mengambil keputusan dengan cepat dan rasional. Anak-anak muda sekarang jangan dininabobokan dengan hanya berpangkutangan saja. Diharapkan enterpreunership bisa menjadi bekal agar kedaulatan ekonomi itu bisa dikuasai. Yang penting juga, anak muda harus punya jiwa kebangsaan yang tinggi. Sebab, jiwa kebangsaan ini menjadi inti daripada muara bahwa kita itu hidup bernegara. Tanpa ada jiwa kebangsaan, maka kita akan menjadi stateless dan itu suatu masalah yang menurut saya tidak ada ruh, tidak ada kebersamaannya, tidak ada nilai heroik kebangsaannya dan hidup menjadi as ussual atau biasa-biasa saja, dan tidak memiliki ruh.

Terkait pilpres, apakah Anda melakukan hal ini karena anda ingin nyapres karena anda juga bagian dari tokoh politik muda?

Itu sesuatu yang lain, tetapi kalau ada anak muda yang mengambil bagian untuk berkompetisi, menurut saya itu benar. Mengapa? Karena ini adalah masa transisi. Setiap transisi, selalu anak muda itu ambil bagian. Misalnya, transisi menuju persiapan kemerdekaan tahun 1928 adalah embrio nasionalis meodern dimana semua melepas etnisitasnya, backgroundnya untuk mempersatukan diri untuk merdeka. Tahun 1966, dimana ada masa transisi orde lama menjadi orde baru, lagi-lagi peranan pemuda sangat signifikan untuk membuat tatanan baru. 1998 mahasiswa bahkan menjadi penentu di dalam proses alih generasi dari orde baru ke orde reformasi. Pertanyaannya 15 tahun reformasi ada distorsi orientasi yang dilakukan oleh pengambil kebijakan. Seperti uncontrolable dalam konteks demokrasi yang overdosis. Ini adalah bagian dari distorsi yang perlu diluruskan kembali. Belum lagi 10 tuntutan rakyat seperti kasus korupsi, ketaatan hukum dan persoalan-persoalan yang sering kita dengar beberapa waktu terakhir, yang belum menjadi bagian dari fakta yang dituntut mahasiswa saat ini. Saya sangat setuju, anak muda harus mengambil bagian dalam konteks 2014.

Sejauh mana pemuda harus mengambil bagian dalam konteks 2014?

Ya sejauh ini saya lihat belum ada greget tetapi kan harus dimulai karena masih waktu ada satu tahun. Bahwa masa depan Indonesia itu jangan ditentukan oleh generasi lama karena nanti yang akan mendapatkan warisan masalah dan akan menyelesaikan masalah itu adalah anak muda. Karena itulah anak muda harus mempersiapkan diri menuju 2014 dimana terjadi demokratik transision yang ada di Indonesia ini.

Apakah bentuk andil Anak muda harus ikut pemilihan legislatif dan eksekutif?

Tidak hanya itu. Di dalam politik ada tiga bentuk perjuangan. Yang pertama adalah, Political inspiring, berpolitik dengan menggunakan inspirasi-inspirasi. Dalam pandangan saya, ini satu hal yang harus dilakukan, anak-anak muda menuntut perubahan, menentukan pola yang berdaulat, karena itu dirinya memberikan inspirasi untuk mengembalikan kedaulatan bangsa. Yang kedua, political influences, dengan cara mempengaruhi. Itu lebih maju lagi, dalam bentuk NGO, melakukan gerakan kontrol, demo dan melakukan kontra-kontra pikiran dan sebagainya. Selain itu harus juga masuk dalam political practiced dimana anak muda terlibat langsung menjadi pengambil keputusan. Berjuang melalui sistem menjadi penting dalam sikap yang ketiga ini. Misalkan mengambil bagian di legislasi, mungkin ada yang mempersiapkan diri di pilpres atau pilwapres, semua itu harus disiapkan anak-anak muda.

Kaum muda menurut Anda itu sebenarnya berada di kisaran usia berapa?

50 more and less karena alih generasi Indonesia masih terlambat. Jadi kalau loncat ke usia 40 dengan kultur dan masyarakat Indonesia rasanya belum pas dan prematur. Jadi menurut saya, kita lebih di Up di sekitar 50 more and less. Kalau di luar negeri rata-rata 45 sampai 50. Mulai dari Obama yang meniti karirnya menjadi Presiden di usia 44 sampai dengan pengangkatan pejabat di Ingris. Tapi karena Indonesia ini lambat dalam hal regenerasi jadi more and less 50 year masih dianggap muda.

Berbicara tentang demokrasi liberal yang Anda katakan over dosis, sebenarnya demokrasi seperti apa yang cocok untuk Indonesia?

Kita harus ambil tengah. Demokrasi tanpa kebebasan itu otoritarian. Tapi kebebasan tanpa ketaatan terhadap hukum itu juga akan melahirkan situasi yang anarkhisme. Nah, menempatkan pada otoritarianisme dan anarkhisme itulah demokrasi. Jadi bagaimana kebebasan itu diberi tetapi harus menjaga apa yang disebut dengan kepatuhan hukum atau yang disebut dengan keteraturan sosial. Karena tidak benar jika ujung atau result dari demokrasi adalah anarkhisme. Diujung kebebasan haruslah ada ketaatan pada hukum.

Seperti apa sosok pimpinan ideal bangsa Indonesia menurut Anda?

Ya ideal tipe nya menurut saya yang bisa memadukan dua figur antara Soekarno dan Bung Hatta. Pak Karno lebih pada solidarity maker leader, dimana pemimpin seperti dia mampu menyatukan bangsa ini. Ini penting karena bangsa ini sekarang mulai tercabik-cabik. Solidaritas kita rendah dan hampir runtuh, maka untuk mengembalikan semangat kebangsaan, perlu yang saya sebut dengan tipe ideal sang proklamator, Soekarno-Hatta. Tetapi karena pembangunan kekuatan ekonomi dunia sedang menoleh ke Southeast Asia, perlu yang disebut dengan teknokrasi dan administratur yang paham betul dengan haluan baru strategi pembangunan ekonomi Indonesia dan itu adalah Pak Hatta. Nah, saat ini Indonesia butuh figur yang menggugah semangat kebangsaan sekaligus bisa meneruskan percepatan pembangunan ekonomi di Indonesia. (FIT)