Wind of Change dari DKPP

sumber : livingunderhighvoltage.blogspot.com

Pepatah mengatakan, ada daging tersimpan di kulkas, tapi yang disuguhkan hanyalah Tempe Bongkrek. Itulah yang terjadi dalam Pesta Demokrasi, khususnya Pilkada di berbagai tempat di Indonesia. Tokoh-tokoh yang diharapkan sengaja tidak dimunculkan. Digantikan oleh tokoh-tokoh yang niatnya sejak awal memang ingin merampok. Dan para perampok itulah yang sesungguhnya berpesta.

Bersyukurlah, sekarang ada Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) yang dipimpin mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie. Lewat lembaga yang baru eksis mengawal Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), etika kepemiluan mulai lebih ditegakkan.

Lewat persidangan DKPP itu pula, drama di balik penjegalan Khofifah-Herman terhampar ke publik. Oleh karena itu pula, DKPP tidak sungkan-sungkan memberhentikan sementara ketiga anggota KPU Jawa Timur yang dinilai telah melanggar etika.

Bukan itu saja, bahkan DKPP tidak mempercayai kredibilitas KPU Jawa Timur dan Bawaslu Jawa Timur secara keseluruhan, sehingga menyerahkan penyelenggaraan Pilkada Gubernur Jawa Timur sepenuhnya kep[ada KPU Pusat dan Bawaslu Pusat.

Tindakan keras DKPP itu bukan sekali dua kali ini saja. Sebut saja dalam proses verifikasi Parpol, DKPP telah menganulir sejumlah keputusan KPU. Sehingga tindakan DKPP itu sempat disebut-sebut sebagai telah melampaui wewenang oleh sejumlah anggota DPR-RI yang nota-bene membidani kelahiran lembaga ini.

Bahkan, sebut Jimly Asshiddiqie dalam diskusinya di Indonesia Democracy Monitor (Indemo) dua bulan lalu, kini DKPP telah memecat 71 oknum penyelenggara Pemilu, termasuk Ketua Bawaslu DKI Jakarta yang ditengarai telah memihak ke salah satu calon dalam Pilkada DKI Jakarta.

Tindakan DKPP meskipun dianggap belum cukup oleh Arief Wibowo, anggota DPR-RI dari PDI Perjuangan, karena meestinya, terang Arief sebagaimana dikutip di sebuah media, DKPP memecat lebih banyak lagi oknum anggota KPUD, namun setidaknya dapat menjadi shock therapy bagi anggota KPU yang lain agar tidak ikut-ikutan membajak demokrasi.

Kenapa dikatakan ikut-ikutan, sebab sebelumnya, demokrasi sejak central prossesing unit (CPU), memory hingga ke sekrup-sekrupnya telah dibajak oleh persekongkolan pemilik partai, pemodal dan orang-orang yang berkepentingan dengan langgengnya praktek curang.

Setidaknya, hadirnya DKPP telah menghembuskan angin segar bagi demokrasi yang telah dibekap dan dibajak dari berbagai sisi. Kemenangan Khofifah dalam gugatannya di DKPP adalah kemenangan akal sehat atas akal-akalan alias tipu daya.

Dengan demikian, demokrasi sebagaimana diidam-idamkan oleh banyak orang akan berjalan sebagaimana mestinya. Tidak seperti yang lalu-lalu, ketika calon-calon pemimpin di segala level jabatan yang diperebutkan lewat prosedur demokrasi bisa (dan biasa) membeli suara lewat penyelenggara pemilu.

Memang, kehadiran DKPP baru memperbaiki Pemilu di sisi penyelenggaranya. Namun, bila penyelenggara pemilu, baik KPU maupun Bawaslu berjalan tanpa pamrih selain menyelenggarakan pesta demokrasi sesuai ketentuan yang ada, diharapkan pula satu mata rantai pembajakan demokrasi terputus, dan diharapkan pula dapat memutus mata-mata rantai lainnya.

Niscaya pula, partai politik berlomba-lomba menyodorkan kader terbaiknya melalui proses rekrutmen yang benar. Bukan seperti sekarang ini, rekrutmen hanya berlaku bagi siapapun yang mampu bayar. Karena memang, praktek akal-akalan dan serba culas memaksa parpol mengikuti gendang yang dimainkan penyelenggara pemilu.

Begitu juga calon-calon kepala daerah, baik incumbent maupun penantangnya, bukan berlomba-lomba menggelontorkan duit ke masyarakat, sebab di sana sudah ada Bawaslu yang bersikap tegas dan tanpa pandang bulu. Kapan menemukan bukti ada yang berjuang, maksudnya bagi-bagi beras, baju dan uang, maka orang itu pun langsung ditangkapnya.

Ke depannya nanti, niscaya pula tidak berlaku lagi pepatah hanya tempe bongkrek yang disuguhkan di perhelatan akbar pesta demokrasi, melainkan ada bermacam-macam menu lezat sehingga Rakyat bisa memilih pemimpin yang terbaik diantara calon-calon yang baik. Semoga.