Kenaikan Harga BBM Menjadi Penyumbang Inflasi di Aceh

Ilustrasi: China.org.cn

Banda Aceh, Sayangi.com – Untuk mengantisipasi terjadi peningkatan inflasi di Aceh di masa yang akan datang, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mengingatkan Pemerintah Aceh agar mencermati setiap komoditi penyumbang inflasi di Aceh. Dengan demikian diharapkan adanya kesiapan menghadapi peningkatan inflasi saat Lebaran.

Sebagaimana data yang dirilis oleh BPS Aceh, inflasi di Aceh saat ini mencapai 1,84 persen. Penyumbang utama terjadinya inflasi diakibatkan adanya terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bulan lalu. Demikian hal disampaikan oleh Kepala BPS Aceh, Hermanto, Kamis (1/8) dalam konferensi pers di Banda Aceh.

“Pemerintah Aceh harus sangat hati-hati dan butuh dicermati setiap komoditas yang menyumbang inflasi di Aceh,” kata Hermanto.

Hermanto tidak menampik kenaikan harga BBM memang tidak dapat dihindari, akan tetapi dibutuhkan peran pemerintah sendiri mencermati terjadinya peningkatan harga komoditi di pasar sehingga harga barang di pasar tidak liar atau tanpa terkendali.

“Yang bisa dilakukan oleh Pemerintah itu adalah menghindari dengan mengontrol harga pasar, selebih itu tidak bisa dilakukan,” tuturnya.

Kendati demikian, secara umum dampak dari kenaikan harga BBM di Aceh tidak begitu terasa dibandingkan dengan di sejumlah Provinsi lain. Meskipun, Hermanto mengaku di Aceh daya beli masyarakat juga terjadi penurunan pasca kenaikan harga BBM.

“Ada dampaknya memang, coba lihat di pasar tradisional dan juga di pasar-pasar pakaian jadi lainnya, konsumen berkurang,” imbuhnya.

Di sisi lain, kata Hermanto, berkurangnya pembeli di mal-mal dan pasar pakaian jadi juga ada pengaruh dari perubahan pola hidup masyarakat Aceh. Kata Hermanto, dulu masyarakat menjelang lebaran terobsesi untuk berbelanja.

“Tetapi saat ini, ada pola hidup yang bergeser, masyarakat tidak terobsesi lagi berbelanja menjelang lebaran, tetapi masyarakat berbelanja setiap waktu sepanjang tahun. Jadi tidak ada hari puncak, belanja itu sudah hal yang biasa,” pungkasnya. (HST)