Bupati Bersikukuh Lanjutkan PLTU Batang

Foto : Antara

Batang, Sayangi.com – Kendati ditentang oleh warganya, namun Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo tetap bersikukuh melanjutkan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di daerahnya.

Bahkan Yoyok mempersilakan Komisi Nasional Hak Asasi Manuasia memfasilitasi pertemuan antara masyarakat dan investor terkait dengan masih adanya kesalahpahaman mengenai proyek prestisius itu di tiga desa Kecamatan Kandeman.

“Kami sudah minta pada Komnas HAM mendampingi melakukan survei resmi di lokasi PLTU agar masyarakat yang belum sepaham terhadap proyek itu bisa mengerti,” katanya saat jumpa pers di Batang, Jawa Tengah, Minggu.

Ia mengatakan, PLTU merupakan proyek negara sehingga semua pihak diharapkan bisa mendukung berdirinya proyek ketenagalistrikan berkekuatan 2×1.000 megawatt itu.

Terkait kunjungan Komnas HAM ke Kantor Gubernuran Jawa Tengah, belum lama ini, jelas yoyok, Pemkab Batang mempersilakan institusi itu ikut mendampangi penyelesaian kesalahpahaman itu secara seimbang.

“Pada bulan Oktober 2012, kami sudah pernah Komnas HAM ikut mendampingi masalah konflik PLTU. Saat itu, Komnas HAM juga menyatakan siap memfasilitasi pertemuan warga dengan investor pelaksana proyek pembangunan PLTU Batang,” katanya.

Menurut dia, pembangunan PLTU Batang nantinya harus bisa dinikmati oleh warga yang terkena dampak, termasuk penyediaan lahan pengganti kepada para petani daerah setempat.

“Investor harus dapat memetakan lahan yang telah dibebaskan, seperti sawah, rawa, dan tegalan. Bagi tanah yang berproduktif, kami minta investor harus bisa mencarikan atau membuka lahan baru yang nantinya dapat dimanfaatkan para petani,” katanya.

Menurut dia, Pemkab Batang sudah bertekad membantu para petani dengan memasukkan masalah lahan pengganti dalam dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

“Kami sudah meminta pada Badan Lingkungan Hidup Jateng memasukkan lahan baru dalam dokumen amdal agar mempunyai kekuatan hukum. Akan tetapi, kami minta PLTU harus tetap dibangun di Batang,” katanya. (MARD/Ant)