Dibilang Suka Main Tembak, Mabes Polri: Polisi Tidak Asal Dor!

Foto: picdnnet

Jakarta, Sayangi.com – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) minta Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) memilah dengan cermat data penembakan yang dilakukan oleh anggota Kepolisian, sebelum disampaikan kepada khalayak.

Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Agus Rianto, tidak benar kalau penembakan di daerah rawan konflik didominasi oleh Kepolisian. “Lihat dulu kasusnya, karena bisa saja berbeda. Maksudnya begini, mungkin perlu dipilah-pilah dan tidak digeneralisir. Misalnya antara petugas yang menembak pelaku curanmor dengan Densus yang sedang menangkap teroris,” jelas Agus kepada wartawan di Mabes Polri,  Kamis (15/8).

Masih kata Agus, KontraS mestinya menyampaikan pula data korban dari Kepolisian yang meninggal saat bertugas di wilayah-wilayah rawan konflik, seperti Papua. “Sekarang mereka punya enggak data berapa polisi yang mati saat bertugas? Harus ada imbangannya. Polisi tidak mungkin menembak tanpa prosedur dan saat ini peraturannya ketat,” tegas Agus.

Dalam menjalankan tugas, setiap anggota polisi dimintai pertanggungjawaban. “Silakan didata mana dari korban yang dinyatakan tidak bersalah,” sambungnya.

Sebelumnya, Kordinator KontraS Haris Azhar dalam keterangan persnya menyebut, sebanyak 361 kasus penembakan terjadi selama kurun waktu 2011-2013. Dari 361 kasus itu, ada 279 kasus penembakan yang dilakukan oleh oknum Kepolisian. Sisanya, 20 kasus oleh TNI dan 63 kasus oleh orang tidak dikenal (OTK). KontraS juga melaporkan 191 orang tewas akibat penembakan sepanjang 2011-2013 tersebut. (MSR)