Tempe Tak Terbeli, Hatta Bilang Ekonomi Baik-baik Saja

Foto : Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Siapa bilang ekonomi Indonesia baik-baik saja? Buktinya, harga tempe setengah potong naik dari Rp 2000 menjadi Rp 3000. Mpok Uloh, buruh cuci di Jatiwaringin pun pusing mengatur kebutuhan rumah tangganya.

Padahal, ucap ibu tiga orang anak itu, selama ini dapurnya masih bisa bertahan karena masih ada lauk relatif murah seperti tempe dan telur ayam negeri. Tapi kini kedua-duanya naik, sedangkan upah buruh nyuci masih segitu-gitu saja.

“Pusing Bang, kalau mikirin kebutuhan dapur bisa-bisa keluarga saya cuma bisa makan sama kecap dan garam,” keluh Mpok Uloh dengan logat Betawinya.

Tentu keluhan Mpok Uloh dirasakan juga oleh keluarga marginal perkotaan lainnya, yang total penghasilannya di bawah Rp 1 juta per bulan. Kini harga barang-barang kebutuhan pokok seperti beras, cabai, minyak sayur, telur dan bahkan tempe sudah naik.

“Harga tempe saja tidak terbeli, kok bisa-bisanya Menko Perekonomian Hatta Rajasa ngomong ekonomi Indonesia baik-baik saja,” kritik Ketua DPN Repdem Masinton Pasaribu kepada Sayangi.com, Selasa (27/8).

Memang, berdasarkan pantauan Sayangi.com ke sejumlah sentra pengrajin tempe, di Jawa maupun luar Jawa, umumnya pengrajin tempe menjerit akibat terlalu mahalnya harga kedelai

Harga kedelai yang awal tahun ini harganya melonjak, kini harganya kembali naik dari Rp 8000 menjadi Rp 9500 hingga Rp 10.000 per Kg. Kenaikan itu beriringan dengan menguatnya nilai dolar AS.

Karena memang, mayoritas kebutuhan kedelai untuk pengrajin tempe sangat bergantung dari pasokan impor. Sedangkan gairah petani lokal untuk menanam kedelai meredup akibat mahalnya biaya bibit dan obat-obatan, ditambah lagi rendahnya kualitas yang membuat pengrajin tempe lebih memilih kedelai impor. (MARD)