Rezim Suriah: Kerry Pembohong Besar

Foto: theguardian.com

Washington, Sayangi.com – Suriah menganggap Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry pembohong besar karena telah menuduh pasukan pemerintah Suriah membunuh 1.429 orang dengan menggunakan senjata kimia di ibukota Damaskus pekan lalu.

Rezim Suriah bersikeras mengatakan bahwa serangan menggunakan senjata kimia dilakukan oleh kelompok pemberontak. Kantor berita yang dikelola negara, Sana, mengatakan bahwa Kerry, yang mengungkap penilaian intelijen AS itu, menggunakan data berdasarkan cerita lama yang diterbitkan oleh teroris lebih dari sepekan lalu.

Sementara itu, AS mengatakan penilaian yang dilakukan mereka didukung oleh catatan dari petugas medis, saksi mata, wartawan, video, dan ribuan laporan di sosial media.

Bukti satelit menunjukkan roket diluncurkan dari wilayah yang dikontrol pemerintah 90 menit sebelum adanya laporan pertama terjadinya serangan kimia.
100 video terkait menunjukkan gejala serangan yang konsisten dengan paparan senjata kimia yang menyerang saraf-saraf korban.

Inspektur senjata kimia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan penyelidikan atas tuduhan serangan gas. Mereka akan segera menyampaikan temuan awal pada PBB setelah mereka meninggalkan Damaskus pada Sabtu (31/8). Namun Kerry mengatakan AS telah memiliki fakta dan tidak akan ada laporanbaru dari inspektur PBB.

Kerry menggarisbawahi bukti dalam laporannya bahwa pasukan pemerintah menghabiskan tiga hari di sebelah timur Damaskus mempersiapkan serangan.

“Kami tahu roket datang hanya dari wilayah yang dikontrol oleh rezim dan mendarat hanya di area yang diduduki oposisi. Semua hal yang kita ketahui menjadi keyakinn intelijen AS,” katanya.

Kerry menyebut Presiden Assad sebagai ‘preman dan pembunuh’ namun mengatakan respon apapun yang dilakukan AS akan secara seksama diukur dan tidak akan melibatkan proses yang berlarut-larut seperti Irak atau Afghanistan. Kerry mengatakan diantara jumlah itu, 426 adalah anak-anak. Dia menggambarkan serangan sebagai “kengerian yang tidak dapat dibayangkan”.

Akan tetapi, Dewan Keamanan PBB tampaknya tidak akan mengizinkan intervensi militer apapun karena Russia merupakan sekutu dekat pemerintahan Suriah.
Rusia dan China telah melakukan veto menolak dua usulan resolusi di Suriah. (FIT/BBC)