Sekilas Tentang Sosok Sengman Tjahja

Foto : Sayangi.com/ist

Jakarta, Sayangi.com – Sebenarnya terungkapnya nama Sengman Tjahja dalam skandal daging impor bukan hal baru. Sebelumnya dalam investigasi majalah Tempo, nama itu pernah disebut-sebut. Terutama tentang bagaimana perannya mengatur kuota daging impor.

Nama Sengman kembali hangat menjadi pembicaraan di masyarakat, saat namanya disebut-sebut dalam rekaman pembicaraan yang diputar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jl Rasuna Sahid, Jakarta, Kamis (29/8).

Dalam persidangan yang menghadirkan saksi Ridwan Hakim, putra Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hilmi Aminuddin untuk terdakwa Ahmad Fathonah, secara mengejutkan Ridwan yang akrab dipanggil Iwan menyebutkan Sengman dititipi uang Rp 40 miliar dari PT Indoguna Utama.

Titipan itu sebagaimana bunyi rekaman yang diperdengarkan, rencananya diberikan ke Engkong yang diduga adalah nama panggilan untuk Hilmi Aminuddin. Tapi titipan itu tidak pernah sampai ke engkong.

“Kalau soal Rp40 miliar itu dibawa sama beliau Sengman. Sengman sendiri sudah saya jelaskan ke penyidik. Jadi kalau mau tahu Rp40 miliar itu tanyakan saja ke beliau (Sengman),” beber Iwan kepada Majelis Hakim, dan bahkan Sengman disebutnya sebagai utusan Presiden.

Namun Iwan mengaku tidak tahu, kemanakah larinya uang itu. Toh begitu pengakuan pengusaha tekstil itu mengejutkan jagad politik di Republik ini. Jadi, siapa sesungguhnya Sengman itu?

Berdasarkan keterangan Anggota DPR-RI Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Ahmad Yani, Sengman Tjahja memang pengusaha sukses asal Kota Palembang.

Jejak bisnisnya, tutur Yani, mulai berkibar saat Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) dipimpin oleh Sainan Sagiman. “Dia mengerjakan sejumlah proyek infrastruktur. Namanya sudah disebut-sebut banyak orang ketika itu,” tutur Yani dalam acara Indonesia Lawyer Club, Selasa (3/9) malam.

Saat pergantian Gubernur, dari Sainan Sagiman ke Ramli Hasan Basri, usaha Sengman Tjahja sempat terseok-seok. “Kabarnya dia terbelit banyak utang,” ungkap Yani.

Namun Sengman tidak patah arang. Ketika itu, beber Yani yang tampak lancar menyebutkan sosok Sengman, pengusaha keturunan Tionghoa itu kemudian membuka bisnis hiburan di kompleks Ilir Barat I yang lebih dikenal warga Palembang dengan sebutan Ramayana.

Bisnis hiburan yang dimiliki Sengman antara lain Diskotik di Hotel Princes miliknya. Selain itu Sengman juga membuka bisnis judi bola gelinding di Kompleks itu. “Sebagai pengusaha, Sengman memang dekat dengan berbagai pejabat,” tambah Yani.

“Di hotelnya, banyak terpajang Sengman berfoto dengan sejumlah pejabat. Karena begitulah Sengman, dia memang pengusaha yang memiliki kedekatan dengan sejumlah pejabat,” papar Yani.

Lewat usaha judinya itu, ucap Yani, Sengman mampu melunasi hutang-hutangnya. Saat kekuasaan berganti dari Ramli yang di Palembang dikenal dengan sebutan Pak Kumis ke Rosihan Arsyad, Sengman mulai cukup modal untuk berinvestasi di kota pempek.

Di sanalah Sengman mulai menggarap proyek Palembang Square yang dianggap bermasalah oleh berbagai kalangan, karena tanah yang digunakan adalah tanah milik negara. Kalangan budayawan kota di tepian sungai Musi itu juga masih ingat, di sana sebelumnya berdiri tegak Taman Budaya.

Di Kompleks Palembang Square itu Sengman membangun Hotel Aston yang sekarang berganti nama Hotel Jayakarta. “Dia memang pengusaha sukses, dan tentu memiliki hubungan pertemanan dengan sejumlah pejabat, termasuk Pak SBY. Tapi kan belum tentu pula SBY dikait-kaitkan dengan persoalan ini,” ujar Yani.

Begitulah sepintas sosok Sengman Tjahja yang memang pengusaha ternama di Ibukota Sumsel itu. (MARD)