Rizal Ramli Kecam Sistem Kuota Impor Kedelai

Foto : Sayangi.com/Ist

Jakarta, Sayangi.com – Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli memberikan arahan pada pemerintah dalam mengatasi permasalahan kenaikan harga kedelai yang melambung tinggi di dalam negeri dan perlunya pengembangan komoditas pangan agar produktivitas kedelai semakin baik.

Menurut Rizal, kesalahan kebijakan yang diambil pemerintah yang menerapkan sistem kuota impor kedelai harus diubah untuk meminimalisir terjadinya lonjakan harga kedelai. Setidaknya harus ada solusi dan cara dalam mengatasi kenaikan harga kedelai dalam negeri untuk menjaga stabilitas harga kedelai.

“Langkah yang harus diambil pemerintah yaitu dimana sistem impor kedelai harus diubah, dan komoditas lainnya jangan lagi pakai sistem kuota. Tetapi pakai sistem tarif siapapun bisa mengimpor. Sehingga harga otomatis turun asal mampu bayar impor,” ujar Rizal ketika dihubungi, Rabu (11/9).

Untuk itu langkah ini diperlukan agar tidak lagi adanya monopoli impor kedelai. Diperlukan juga peningkatan produk-produk pangan, dan lainnya. Karena tidak terlalu susah untuk meningkatkan produktivitas kedelai, menurutnya, menanam kedelai hanya memerlukan waktu 4 bulan sudah bisa dipanen hanya saja rakyat tidak semangat karena keuntungannya rendah.

Jadi kata Rizal, pemerintah seharusnya dapat menyusun kebijakan harga misalnya 6 komoditas pangan. Tetapi harus didukung oleh anggaran pertanian yang cukup.

“Saya kaget anggaran pertanian 2014 diturunkan dari 2013 yaitu sekitar Rp15 triliun. Sementara biaya perjalanan anggota DPR naik dari Rp 4 triliun jadi Rp 23 triliun. Pemerintah lebih senang jalan-jalan daripada memikirkan pertanian,” tuturnya.

Ketika ditanya keterlibatan Kementerian Perdagangan dalam memperlancar kartel, Rizal mengatakan bahwa dirinya berbaik sangka saja, tetapi dirinya minta Memperindang untuk all out dalam memberantas kartel.
“Saya nggak suudzon (buruk sangka), tapi saya minta menperindag untuk all out,” ungkapnya.

Lebih lanjut, menurut Rizal, adanya pengaruh pelemahan rupiah terhadap dollar, dirinya dapat membenarkan ada pengaruhnya dengan anjloknya rupiah dari Rp 9.300 sampai ke Rp 11.000 tentunya hingga sekarang otomatis harga pangan menjadi naik 11%.

“Kalo rupiah anjlok dari Rp 9.300 ke Rp 11.000 otomatis harga pangan naik 11 persen karena kita impor. Tapi kalo sistem kuota diganti sistem tarif harga malah dapat turun 30 persen,” ungkap Rizal.

Jadi Rizal menjelaskan, kalau sistem tarif pengusaha bayar tarif, ada penerimaan. Kalau hanya sistem kuota yang diberi hanya 8 pengusaha. “Harusnya juga diumumkan siapa saja yang dapat kuota,” imbuhnya.

Lebih lanjut Rizal menganjurkan, bahwa sebaiknya kedepan pemerintah bisa mengembangkan sendiri produksi kedelai di dalam negeri. “Cari bibit palingg bagus di dunia, ada di Argentina, Brazil, yang dapat dikembangkan oleh para petani,” jelasnya. (VAL)