Perubahan Pola Sebabkan Penembak Polisi Sulit Ditangkap

Foto: sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Penembakan polisi sudah terjadi berkali-kali, tetapi sebagian besar aksi penembakan belum terungkap. Di awal tahun ini saja tercatat lima kasus yang mengorbankan enam polisi. Terakhir, adalah yang terjadi pada Rabu (10/09) malam di Jalan HR Rasuna Said, di depan gedung KPK Jakarta Selatan. Peritiwa ini menewaskan Brigadir Kepala (Bripka) Sukardi.

Sulitnya menangkap pelaku ini, menurut seorang anggota Komisi Kepolisian Nasional, Adrianus Meliala, sulitnya karena minimnya data terkait jaringan pelaku dan perubahan pola aksi terorisme.

Meski pun Detasemen Khusus 88 Anti Teror cukup unggul menangkap terorisme, tetapi terkait penembak polisi justeru kesulitan.

“Densus unggul menangkap teroris karena dia sudah membangun data base jaringan terorisme yang sangat masif dalam 10 tahun terakhir,”kata Dosen besar Ilmu Kriminal UI ini.

Tetapi, lanjut Andrianus, sejauh ini aparat belum mengendus pelaku penembakan yang sedang menyasar personil aparat terutama yang sedang berseragam.

Adrianus menduga telah terjadi perubahan pola kerja dari terorisme berjaringan menjadi aksi individual yang sulit dicari kaitannya dengan kelompok terdahulu.

Menurutnya, pola yang terjadi sekarang merupakan aksi yang disebut self radicalization, yang menjadi radikal dengan sendirinya karena bantuan bacaan, internet, dan pengajian.

“Basis dia anaknya siapa, bapaknya siapa hubungannya apa, sudah tidak berlaku lagi,” pungkas Adrianus. (VAL)