Kader HMI Jangan Hanya Survive di Jakarta

Foto: Sayangi.com/Okky

Jakarta, Sayangi.com – Anggota Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Anis Baswedan mengatakan, sebenarnya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak pernah menjadi pusat pergerakan.

Kendati demikian, alumni kampus Yogyakarta, terutama alumni HMI sejak tahun 60-an sudah mewarnai Republik ini. Hal tersebut dikarenakan kesultanan Yogjakarta, sebelum Indonesia merdeka, sudah pandai membaca arah zaman.

“Dimana Jogja dalam pergerakan nasional. Pusat pergerakakan itu di Semarang, Bandung, Solo dan sebagainya, Jogja tidak pernah menjadi pusat pergerakan. Ketika menentukan lokasi, kesultanan pandai membaca pergerakan zaman. Tahun 60-an ke atas kita menyaksikan tokoh-tokoh nasional anak-anak Jogja.

Tokoh-tokoh yang cukup memberikan warna di Republik yang kini dihuni sekitar 250 juta jiwa manusia ini diantaranya adalah mantan Ketua MK Mahfud MD, Peserta Konvensi Capres Partai Demokrat Anis Baswean, mantan Ketua Umum PAN Amien Rais, dan lain sebagainya.

“Ini luar biasa. Jogja menjadi bagian Indonesia yang tak terhindarkan dan mewarnai republik,” puji Anis. Namun, Anis yang juga Rektor Universitas Paramadina, Jakarta ini mengingatkan kembali bahwa situasi saat ini sudah berbeda. Indonesia sudah memasuki areal yang lebih luas, yaitu ASEAN. Karenanya, kata dia, memasuki areal ASEAN adalah tantangan yang cukup berat bagi kader maupun alumni himpunan yang lahir pada 1947 silam tersebut.

“Kita memasuki areal yang lebih luas, yaitu ASEAN. Ini tantangan kita. Anda jangan menyiapkan yang survive hanya di Jakarta, tapi di ASEAN, yang terbawa pada perubahan zaman itu,” kata dia sembari mensosialisaikan tentang kegiatan KAHMI yang akan diselenggarakan pada 17 September 2013 nanti. (MSR)