Wilfrida Tunggu Vonis Mati, SBY Sibuk Urus Konvensi

Foto: Sayangi.com/Chapunk

Jakarta, Sayangi.com – Sebanyak 221 Warga Negara Indonesia (WNI) yang terancam hukuman mati. Mayoritas dari mereka adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Namun demikian, ancaman hukuman mati kepada WNI tersebut tak membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengambil inisiatif untuk menyelamatkan mereka. SBY sepertinya lebih sibuk mengurus konvensi penjaringan calon presiden di partainya.

Anggota Komisi IX DPRI, Rieke Diyah Pitaloka mengatakan, data per tanggal 29 Agustus 2013, Rakyat Indonesia yang terancam hukuman mati di Malaysia adalah sebanyak 185 orang. Dan di Arab Saudi 36 orang. Satu diantara TKI yang akan dihukum mati di negeri Jiran tersebut adalah Wilfrida Soik asal Nusa Tenggara Timur. Gadis belia ini sedang menunggu vonis hukuman gantung di Malaysia.

Wilfrida adalah korban perdagangan manusia, direkrut dengan cara ilegal, pemalsuan dokumen dan usia yang masih di bawah umur. Dikirim pada saat Indonesia dalam posisi moratorium ke Malaysia. Disaat sesungguhnya tak boleh ada PRT baru dari Indonesia di Malaysia.

Wilfrida dipekerjakan sebagai pengurus lansia. Menghadapi tekanan psikologis menghadapi majikan yang acapkali sering lakukan kekerasan terhadap dirinya. Singkat cerita, saat ini Wilfrida hadapi vonis gantung atas tuduhan membunuh sang majikan.

“Berbagai upaya sudah dilakukan oleh saya dan kawan-kawan yang peduli dengan TKI. Namun, kami sadari tugas melindungi dengan segala. fasilitasnya ada di tangan pemerintah sesuai dengan amanat Pembukaan dan UUD 1945,” kata Rieke, Kamis (19/9)

Rieke mengaku tidak akan berhenti meperjuangkan Wilfrida. Petisi untuk memohon dukungan kepada segenap rakyat Indonesia dan masyarakat internasional sudah diluncurkan. Dukungan pun datang dari rakyat di belahan dunia. Petisi tersebut sudah diserahkan kepada pimpinan DPR.

Saya, sebagai anggota komisi IX DPR RI berharap dengan petisi ini DPR pun ambil bagian dalam perjuangan kasus ini. Berbagai statement politik telah saya sampaikan berulangkali, agar perlindungan dan pendampingan hukum buat Wilfrida lebih dioptimalkan dan semua proses persidangan disampaikan kepada publik di tanah air. Tapi, desakan segelintir orang saja tidak cukup,” katanya.

Dikatakannya, saat ini diperlukan lebih banyak suara yang teriakan agar pemerintah bergegas selamatkan rakyatnya. Atau barangkali bagi pemerintah SBY seorang gadis belia, korban perdagangan manusia, bernama Wilfrida tak ada artinya. Sepertinya, bagi SBY Konvensi Capres lebih berarti. (RH)