Ali Masykur Musa: Merebut Simpati Publik Dengan Sentuhan Hati

Foto : Sayangi.com/Okky

Cerdas dan santun. Dua kata itu agaknya tepat menggambarkan sosok Dr. Ali Masykur Musa (51), ketua umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), yang saat ini menjabat anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) . Tutur katanya tak pernah meledak-ledak, walaupun ia sedang menjelaskan berbagai masalah bangsa yang rumit.

Dalam wawancara khusus dengan Sayangi.com, Rabu (18/9), tentang gagasan dan peluangnya sebagai peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat, Ali Masykur menyadari posisinya yang tidak banyak uang dan merupakan peserta konvensi dari eksternal partai. Maka, dengan mengusung visi Indonesia AMM (Adil, Makmur, ber-Martabat), ia memilih untuk lebih banyak menggunakan cara-cara simpatik, cerdas, dan murah untuk merebut hati publik. “Kampanye dengan sentuhan hati,” ujarnya. Berikut petikan wawancaranya.

Apa yang mendorong Anda ikut konvensi Partai Demokrat?

Saya tumbuh dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang menempa saya untuk terus berjuang. Ditempa untuk selalu mengambil posisi sebagai aktifis dan pejuang. Sejak remaja, mahasiswa, dan pemuda saya aktif di berbagai organisasi. Pernah menjadi ketua umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), aktif di KNPI, di Ormas Kosgoro, jadi anggota DPR dua periode dan aktif di dewan pimpinan pusat PKB sampai tahun 2009, sekarang saya aktif sebagai ketua umum PP ISNU sebagai salah satu sayap NU di bidang intelektual. Sebagai aktifis, api perjuangan itu tidak boleh padam. Dan konvensi Partai Demokrat ini adalah jalan yang tepat untuk mengoptimalkan latar belakang saya sebagai aktifis. Jadi motivasi utamanya adalah ingin terus mengabdi, berjuang dan berbagi untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Kenapa pilihannya Partai Demokrat, padahal partai ini sedang mendapat banyak sorotan?

Saya bisa memahami berbagai sorotan yang sekarang tertuju kepada Partai Demokrat. Tapi, terlepas dari itu, hanya Partai Demokrat saat ini satu-satunya partai yang berani melakukan konvensi untuk mencari calon presiden secara terbuka. Langsung melibatkan partisipasi rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Bukan seperti pola lama yang top down, di-drop capresnya, atau dipilih berdasarkan kedaulatan tidak langsung melalui rapat pengurus partai. Konvensi Demokrat ini ide cerdas dan berani untuk membuka akses kepada seluruh tokoh-tokoh potensial di negeri ini untuk menjadi pemimpin bangsa ke depan.

Jika menang konvensi, Anda kan harus bersedia menjadi anggota Partai Demokrat?

Kalau terpilih tentu. Saya memahami bahwa capres dari suatu parpol tentu harus mengambil platform dan blueprint partai tersebut untuk diperjuangkan. Menurut saya, platform yang dikembangkan Partai Demokrat sebut saja nasional religius, tidak jauh berbeda dengan pandangan NU dalam melihat hubungan antara negara dan agama. Menurut pandangan NU, pendekatan agama dan negara itu tidak strukturalis, tetapi agama menjadi penyinar (enlighten), bagaimana nilai-nilai agama masuk dalam sistem bernegara. Karena itu NU berpandangan, negara bangsa Indonesia yang berdasar Pancasila ini sudah given, final, tidak usah diutak-atik. Dari segi platform itu, tidak ada yang diametral atau konfliktif antara Partai Demokrat dan paham dari organisasi yang saya ikuti yaitu NU.

Tapi, apakah Anda tidak risih dengan banyaknya kritik terhadap Partai demokrat saat ini?

Saya berpikir positif saja terhadap konfigurasi dan kompetisi partai politik yang ada saat ini. Apalagi ini kan mendekati Pemilu, wajar kalau ada parpol lain yang sekarang sedang bersahabat atau tidak bersahabat dengan partai demokrat. Di sisi lain juga harus dilihat wajar jika Partai Demokrat saat ini sedang berusaha memperbaiki stigma yang ada padanya. Semua harus dilihat dalam perspektif khusnudzon (berbaik sangka). Semua parpol muaranya adalah untuk menjadi instrumen dalam membangun negeri, dan tentu adalah untuk mensejahterakan rakyatnya. Termasuk dengan konvensi ini.

Sebagai calon presiden, menurut Anda apa saja masalah yang dihadapi  Indonesia saat ini?

Masalah utama (core problem) yang dihadapi masyarakat Indonesia intinya tiga. Pertama, isu keadilan yang di dalamnya termasuk penegakan hukum, pemberantasan korupsi, membuka akses politik dan ekonomi yang sama, juga masalah keamanan. Kedua, masalah pemerataan kemakmuran. Di Indonesia saat ini ada kesenjangan atau disparitas sangat tinggi antara 100 orang terkaya yang menguasai aset sampai Rp1400 triliun dengan lapisan besar masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka yang terkaya itu sukses bukan karena kreasi atau mengembangkan industri berteknologi tinggi, tetapi menyerap hasil kekayaan alam Indonesia seperti tambang dan perkebunan. Kalau diperas lagi, dari 40 top orang terkaya Indonesia, 27 diantaranya pemain tambang dan perkebunan sawit. Ini tidak sejalan dengan prinsip keadilan ekonomi. Ketiga, masalah martabat bangsa yang berkaitan erat dengan merosotnya nasionalisme dan daya saing kita sebagai bangsa.

Dari masalah yang ada, Anda mau memperjuangkan agenda apa?

Pertama, mewujudkan keadilan sosial kata kuncinya Adil. Kedua, percepatan distribusi kemakmuran, kata kuncinya makmur. Ketiga, menjunjung martabat bangsa, kata kuncinya martabat. Sehingga jika disingkat, visi saya adalah Indonesia AMM (Adil, Makmur, ber-Martabat).

Visi itu masih terlalu umum. Program aksi yang mau digaris bawahi kira-kira apa?

Semua ada program aksi dan prioritasnya. Mewujudkan keadilan prioritasnya adalah menghapuskan oligaki, mempercepat distribusi kemakmuran prioritasnya adalah memperkuat lembaga ekonomi mikro (micro finance), dan meningkatkan martabat bangsa dengan memperkuat daya saing serta meningkatkan nasionalisme yang mulai rapuh.

Mengikis budaya oligarkis, berarti mengembangkan  meritokrasi?

Lebih luas dari itu. Karena meritokrasi basisnya adalah pendidikan (merit), siapa yang berpendidikan maka berpeluang besar untuk maju. Sekarang ini kan ada pameo, nasib orang ditentukan oleh nasab (keturunan atau asal usul) dan nisab (kekayaannya). Itu bisa kita lihat misalnya di rekrutmen parpol, birokrasi, dan sebagainya. Ke depan, budaya ini harus dikikis, supaya siapapun punya kesempatan untuk maju asal cakap dan memenuhi syarat.

Oligarki di partai politik itukan wilayah internal masing-masing partai. Bagaimana Anda bisa mengikisnya?

Insya Allah bisa. Karena banyak masalah bangsa ini bisa diselesaikan secara top down. Dengan memberi teladan, juga dengan mengubah sistem atau membuat aturan yang konstruktif.

Anda merasa risau tidak, terhadap realitas bahwa Indonesia adalah negara agraris tapi pangan saja kita harus impor?

Pasti risau. Itu terjadi karena sejak hulunya kita salah asuh. Negara tidak hadir sejak hulu sampai hilir dalam kebijakan ketahanan pangan. Saya ambil contoh Vietnam, salah satu negara yang mensuplai kebutuhan beras kita. Kenapa Vietnam bisa surplus? Karena urusan pangan di sana jadi urusan negara. Ada asuransi pertanian, kalau petani rugi karena gagal panen akibat hama, force major, atau penanganan yang salah, maka 60% dari total kerugian itu ditanggung negara. Negara hadir sejak di perencanaan. Kedua, kesalahan di Indonesia, subsidi pertanian itu diberikan melalui pabrik pembenihan atau pabrik pupuk. Padahal kita tahu, pabrik itu selalu mengambil untung, sehingga petani tidak mendapatkan nilai tambah (added value) dari proses subsidi itu.

Anda yakin bisa memenangkan konvensi ini?

Buat saya bukan masalah kekuasaan atau menang kalah. Urusan amanah itukan pada akhirnya wilayah Tuhan. Yang terpenting dari proses konvensi ini, saya bisa menyampaikan secara massif dan terbuka gagasan saya. Membangun kesadaran kolektif bahwa kita adalah negara besar, punya masalah besar, dan memerlukan pemimpin yang mampu menggerakkan potensi bangsa ini untuk lebih adil, makmur, dan bermartabat.

Lho, ikut sebuah kontestasi tentu harus ada keyakinan menang?

Satu sisi itu betul, harus punya keyakinan menang. Terus berjuang, dengan dibantu sahabat-sahabat muda dari NU dan berbagai elemen masyarakat yang lain. Warga NU memang besar, katakanlah mencapai 40 persen dari total pemilih, tapi kita tahu Indonesia ini bukan hanya NU. Jadi saya menyasar segmen pemilih yang lebih luas, terutama kalangan muda. Dengan membangun kesadaran kolektif mengenai berbagai masalah bangsa yang ada, Insya Allah saya bisa menundukkan hati pemilih.

Menyiapkan dana berapa untuk kampanye?

Saya ini bukan konglomerat, sehingga kekuatan saya bukan di uang. Tapi di sentuhan hati. Jadi saya akan lebih banyak melakukan kampanye melalui cara-cara yang simpatik, cerdas, dan murah. Saya tidak akan memilih cara bertarung berbasis free market yang perlu modal besar.

Apa contoh pilihan kampanyenya?

Sudah tujuh bulan ini, saya rutin keliling daerah mulai Jumat malam sampai Minggu. Diskusi dengan adik-adik seperti di PMII, ISNU, hadir acara mauludan, shalawatan, atau acara haul. Kalau acara maulud atau haul itu, sudah biasa pidato di depan 50.000 orang. Biayanya murah karena saya diundang.

Sudah membangun komunikasi dengan jajaran partai demokrat di daerah?

Undangan-undangan sudah ada. Dari DPW juga DPD. Macam-macam undangannya, mulai dari dialog terbuka atau memberikan pembekalan caleg. Ini sinyal positif bahwa keikutsertaan saya di konvensi tidak resisten di internal Partai Demokrat.

Ikut konvensi apa tidak mengganggu tugas sebagai anggota BPK?

Insya Allah tidak. Sejauh ini saya bisa meng-handle semua tugas-tugas di BPK.