Peluang Indonesia Setelah “Angin Segar” The Fed

Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.com – Keputusan Bank Sentral AS atau The Fed yang menunda “tapering” atau pengurangan stimulus kepada pasar modal merupakan “angin segar” harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pihak Indonesia.

The Fed atau Bank sentral AS akhirnya memutuskan mempertahankan pemberian stimulus sebesar 85 miliar dolar AS per bulan. Spekulasi sebelumnya menyebut bahwa stimulus itu bakal dikurangi 5-10 miliar dolar AS.

Keputusan itu mengakibatkan membaiknya indeks bursa dunia, termasuk bursa Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun menguat.

Pascakeputusan tersebut, sejumlah pihak seperti Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis menegaskan, keputusan The Fed berpotensi memasukkan kembali modal asing ke Indonesia.

“Keputusan The Fed yang menunda pengurangan stimulus yang mereka kucurkan sejak 2008 senilai 85 miliar dolar AS per bulan bisa mendorong aliran masuk modal asing ke Indonesia,” kata Harry Azhar Azis di Jakarta, Jumat (20/9).

Untuk itu, ujar Harry, Indonesia juga harus mengantisipasi dengan menawarkan imbal hasil dan mempersiapkan strategi agar dana tersebut tidak dengan mudah keluar kembali begitu saja.

Ia mengingatkan bahwa regulasi devisa atau UU No 24 Tahun 1999 yang berlaku saat ini masih terlalu liberal, tidak seperti aturan di negara lain seperti di Thailand.

“Kita bisa mencontoh Thailand yang memiliki kemampuan untuk memburu serta mengembalikan devisa hasil ekspornya melalui UU Devisa yang sangat ketat,” katanya.

Menurut dia, dalam UU Devisa di Thailand ada kewajiban untuk menempatkan devisa hasil ekspor di bank lokal dalam periode tertentu atau disebut “holding period”.

Saat ini, lanjut Harry, Bank Indonesia memiliki Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.13/20/PBI/2011 dan Surat Gubernur BI No.14/3/GBI/SDM tanggal 30 Oktober 2012 yang mewajibkan devisa hasil ekspor komoditas tambang, serta minyak dan gas yang diparkir di luar negeri ditarik ke dalam negeri paling lambat 90 hari setelah tanggal pemberitahuan ekspor barang (PEB).

Namun sayangnya, ia berpendapat bahwa ternyata PBI hanya menjadi sistem pencatat dan belum menjadi instrumen pengatur PEB.

“Dalam tataran hukum, PBI bukan regulasi yang kuat,” katanya sambil menambahkan, harus ditetapkan sebuah perangkat perundangan yang membuat investor “nakal” bersedia menaruh devisa di dalam waktu tertentu (holding period).

Selain itu, Harry yang juga politisi Partai Golkar itu juga meminta pemerintah segera memperbaiki fundamental ekonomi terutama dengan cara menekan impor dan meningkatkan kinerja ekspor.

Harry mengingatkan, tingkat impor terbesar yang paling wajib diatasi adalah impor hasil migas sehingga pemerintah harus segera mengatasi keterbatasan pengolahan hasil migas karena keterbatasan kilang di dalam negeri.

“Cara tersingkat tentu saja adalah membeli kilang, sementara pembangunan kilang baru yang butuh waktu juga harus dilaksanakan,” katanya.

Selain langkah-langkah tersebut, lanjutnya, dalam jangka pendek yang paling masuk akal adalah mendorong peningkatan sektor industri kreatif dan pariwisata yang memiliki perputaran uang yang sangat besar.

Sementara itu, Indonesia Bond Pricing Agency menilai bahwa investor asing tidak akan menarik seluruh dananya sekaligus dari Indonesia meski kebijakan pengurangan stimulus keuangan the Fed nantinya diterapkan.

“Mereka tentu akan menghitung untung-rugi jika melakukan penarikan investasi,” ujar Direktur IBPA Wahyu Trenggono di Jakarta, Senin (16/9).

Kendati demikian, ia mengharapkan pemerintah memiliki sejumlah upaya untuk mengantisipasi dampak dari penarikan dana, seperti “bond stabilization framework” yang dibuat pemerintah.

Antisipasi pemerintah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Kamis (19/9) mengatakan, pemerintah telah menyiapkan berbagai antisipasi terhadap berbagai kemungkinan.

“Kita tidak bisa mengatur negara lain. Yang penting apa pun keputusan The Fed kita harus siap, dan pemerintah mempersiapkan diri kepada tiap kemungkinan,” katanya.

Selaras dengan Menko Perekonomian, maka Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyatakan Indonesia tetap perlu terus mempersiapkan kondisinya ekonominya lebih baik kendati The Fed menunda pelaksanaan pengurangan stimulus moneternya.

“Kita menghormati keputusan The Fed untuk tetap melakukan stimulus moneter dan untuk Indonesia maupun negara-negara di dunia khususnya negara berkembang, kita harus selalu mempersiapkan diri bahwa stimulus itu nantinya akan berkurang dan itu akan berpengaruh terhadap negara-negara berkembang termasuk Indonesia,” ujar Agus ditemui di Kompleks Perkantoran Bank Indonesia (BI) Jakarta, Jumat (20/9).

Menurut Agus, pengurangan stimulus moneter akan tetap dilakukan oleh The Fed kendati dilaksanakan secara bertahap. Perekonomian dunia sendiri diprediksikan akan mengalami perubahan di mana perekonomian negara maju akan kembali pulih sedangkan negara-negara berkembang relatif cukup tertekan.

Untuk itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta pelaku pasar keuangan Indonesia terus mempersiapkan diri menghadapi pengurangan stimulus keuangan The Fed yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

“Cepat atau lambat ‘tapering’ stimulus keuangan AS akan terjadi, yang penting bagi kita adalah kesiapan,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Darmansyah Hadad di Jakarta, Minggu (22/9).

Hal senada juga dikemukakan oleh lembaga keuangan multilateral, seperti Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati yang mengingatkan bahwa risiko dan ketidakpastian berkaitan dengan “tapering” atau penarikan bertahap stimulus oleh The Fed masih tetap ada, menyusul kebijakan bank sentral AS itu yang masih mempertahankan stimulus.

“Ini waktunya bagi pembuat kebijakan untuk memanfaatkan momen itu dan menyelesaikan kerentanan domestik dan mengurangi paparan finansial eksternal,” kata Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati ketika berpidato pada Pertemuan Menkeu APEC di Nusa Dua, Bali, Jumat (20/9).

Ketua The Fed Ben Bernanke juga mengatakan bahwa Fed masih bisa memutuskan untuk mulai mengurangi program stimulusnya pada tahun 2013 ini.

“Tidak ada kalender tetap,” kata Bernanke kepada wartawan dalam konferensi pers setelah pertemuan kebijakan dua hari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) sebagaimana dikutip kantor berita AFP.

Dengan demikian, Indonesia harus bisa mengambil peluang setelah adanya penundaan “tapering” dan mempersiapkan diri bila sekiranya pengurangan stimulus itu akhirnya benar-benar terjadi. (ANT)