Qanun Jinayah Masih Tahap Perampungan Pansus

Foto: Antara

Banda Aceh, Sayangi.com – Ketua Badan Legislaai (Banlwg) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Abdulah Saleh, saat diminta penjelasan sejauh mana telah dilakukan pembahasan qanun Hukum Jinayah. Ia menyebutkan sudah masuk di meja pimpinan san saat ini sedang dalam proses pembentukan Panitia Khusus (Pansus).

“Sekarang sudah sama Sekretaris Dewan (Sekwan), tanya sama Sekwan sejauh mama sudah progresnya,” jelas Abdullah Saleh, Kamis (26/9/2013).

Dijelakan Abdullah Saleh, Banleg telah selesai mempersiapkan draf akademik dan juga telah menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU). Tinggal Pansus yang bekerja untuk memperdalam kajian qanun tersebut.

Saat dikonfirmasi pada Sekwan, A Hamid Zein mengakui saat ini sudah masuk ke Sekwan dan sekarang lagi dalam proses perampungan Pansus.

“Kita sekarang lagi menentukan ketua Pansus yang belum ada, dalam waktu dekat sudah selesai,” ungkap A Hamid Zein.

sistem Hukum Pidana Islam (Jinayah) mengandung beberapa jenis sanksi pidana yang antara lain: qisas, hadd dan ta’zir. Qanun Jinayat di Aceh hanya memberlakukan sebagian hukum hadd dan ta’zir. Hukuman hadd diaplikasikan dalam ketentuan pelanggaran khamar, dan hukuman ta’zir diberlakukan bagi pelaku khalwat.

Ketiga perkara hukum jinayat tersebut telah diqanunkan ke dalam tiga konsepsi Qanun Hukum Jinayat yaitu: 1). Qanun Jinayat No.12 Tahun 2003 tentang Khamar (minuman keras dan sejenisnya), 2). Qanun Jinayat No.13 Tahun 2003 tentang Maisir (judi), dan 3). Qanun Jinayat No.14 Tahun 2003 tentang Khalwat (mesum).

Pentingnya Qanun Jinayah

Sahabat-sahabat Nabi saw, juga tabi’ tabi’in dalam berkehidupan selalu memprioritaskan agama dan kemaslahatan umum dalam tata kelola pemerintahan dan kemasyarakatan. Mereka menjadikan urusan agama menjadi nomor wahid dari pada urusan yang bersifat duniawi. Selaku umat Islam kita memahami sekiranya permasalahan keagamaan diselesaikan dan tuntas maka urusan-urusan yang lain juga akan mampu sempurna dilakukan. Karena pada hakikatnya agama Islam akan mampu menjawab segenap permasalahan sosial dan lain sebagainya.

Apalagi di Aceh, sikap fanatisme beragama masih kental melekat dalam dada masyarakatnya, sekiranya hari ini diajak voting mana lebih penting membahas Qanun Jinayah daripada qanun-qanun lainnya, bisa direkapitulasikan suara akan lebih memilih yang lebih penting adalah Qanun Jinayah. (RH)