Badan Intelijen Kenya Kecolongan Aksi Teroris di Nairobi

Foto: The Telegraph

Nairobi, Sayangi,com – Pihak berwenang Kenya menghadapi pertanyaan signifikan atas penanganan mereka terhadap serangan mal pembantaian Westgate tadi malam (25/6) setelah sebelumnya mengatakan bahwa mereka kecolongan atas serangan teroris tersebut.

Gidion Sonko, seorang politisi Kenya, mengatakan bahwa sebelum serangan itu terjadi, dua orang senat Kenya datang kepadanya 2 bulan lalu dan melaporkan bahwa ada teroris yang tinggal di dekat rumah mereka dan tengah merencanakan serangan di Mal Nairobi.

Mendapatkan berita itu, dia pun segera memberitahukan rencana itu pada Badan Intelijen Nasional, Kenya. Namun rupanya Badan Intelijen Kenya lamban untuk menyikapinya. Gidion menuduh Badan Intelijen Kenya lamban dan gagal bertindak.

Pemerintah Kenya juga di bawah tekanan untuk menjelaskan bagaimana teroris mampu untuk mengangkat senjata berat dan amunisi yang begitu lengkap ke pusat perbelanjaan kelas atas yang memiliki sistem keamanan yang harusnya bisa mendeteksi hal itu.

Meski sebelumnya, Presiden Kenya, Uhuru Kenyata mengatakan bahwa Shomalia Al-Shabab telah menyewa sebuah toko di kompleks dan menggunakan untuk persiapan mereka menjelang serangan Sabtu lalu.

Hingga saat ini masih belum jelas semalam berapa banyak sandera telah ditahan atau telah meninggal. Palang Merah Kenya telah menyusun daftar 71 orang hilang sejak Sabtu.

Tapi Yusuf Ole Lenku, menteri dalam negeri mengatakan semalam bahwa jumlah mayat yang masih tergeletak di dalam mal belum teridentifikasi.

Kegagalan intelijen telah menggema mengingat terjadi lonjakan aktivitas dan komunikasi yang mencurigakan.

“Selalu ada ancaman terhadap Kenya, berdasarkan di mana kita berada dan siapa tetangga kita . Tapi pasca penyerangan Westgate, saya mendengar banyak orang mengatakan ini adalah suatu kegagalan besar di suatu tempat dimana sistem keamanannya tidak ada yang melihat rencana besar teroris. Bahkan tak ada tindak lanjut dari intelijen dan badan keamanan setempat setelah menerima laporan rencana penyerangan itu jauh-jauh hari,” kata seorang pejabat Barat yang fokus pada keamanan di lintas Batas Afrika.

Bagian penting dari penyelidikan serangan ini adalah memahami bagaimana teroris membawa senjata mereka ke pusat perbelanjaan yang memiliki pemeriksaan keamanan pada kendaraan dan pejalan kaki.

Para pejabat AS mengatakan kemarin, bahwa geng teroris telah memiliki karyawan di mal untuk melakukan kolusi. Hal ini memungkinkan mereka untuk menyimpan semua amunisinya pada hari-hari menjelang serangan.

New York Times melaporkan, beberapa orang yang selamat dari pengepungan mengatakan mereka melihat orang-orang bersenjata dengan senjata yang sangat berat selama serangan itu.

Agen yang mampu berbahasa inggris juga mengatakan adanya sedikit kecurigaan di Kenya. Ada yang sengaja dipilih untuk memimpin plot, yang direncanakan di Somalia dan mempelajari cetak biru mal hingga melakukan latihan serangan” tulis Ney York Times. (FIT/ the telegraph)