Harlah Wahid Institute: Jokowi Dihadiahi Peci Gus Dur

Foto: sayangi.com/Emil Ondo

Jakarta, Sayangi.com – Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, atau yang akrab dipanggil Jokowi menyampaikan orasi kebangsaan di acara Hari Lahir (Harlah) ke-9 The Wahid Institute, Kamis (26/9).
Dalam acara yang diselenggarakan di Kantor The Wahid Insutute jalan Amir Hamzah No. 8 tersebut Jokowi menyampaikan orasi bertajuk “Kepemimpinan yang Berpihak pada yang Lemah (mustad’afin).

Dalam orasinya, Jokowi menjelaskan beberapa problem yang dihadapinya ketika memimpin Jakarta. Menurutnya, pada awal memimpin dia disuguhi data tentang jumlah penduduk miskin di Jakarta yang hanya 3,8 persen.

“Tapi saya tidak percaya, setelah turun lapangan akhirnya saya minta data yang sebenarnya. Dugaan saya benar yang miskin memang 3,8 persen, tapi yang rentan miskin 37 persen. Pada kenyataannya mereka miskin semua”, kata Jokowi disambut gelak tawa hadirin.

Lebih lanjut Jokowi menjelaskan bahwa aktivitas blusukannya sangat efektif dalam merekam potret masyarakat Jakarta. Blusukan, kata Jokowi hanya istilah dalam menciptakan kebijakan publik dengan cara interaksi langsung ke masyarakat dalam rangka mendengar, melihat dan mengetahui secara langsung kebutuhan mereka.

“Sekarang saya sudah bisa nyombong kepada para walikota tentang penguasaan lapangan”, lanjut Jokowi.

Jokowi juga menceritakan problem yang dihadapinya ketika mengeluarkan kebijakan Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar. Sambil bercanda Jokowi bilang kalau kebijakan tersebut hampir berujung pada pemakzulannya sebagai gubernur. “Saya senang sekali kalau sampai dimakzulkan karena kebijakan ini. Kirain beneran, saya tunggu-tunggu ternyata tidak ada apa-apa”, kata Jokowi.

Pada kesempatan tersebut Jokowi juga manampilkan beberapa slide presentasi yang menunjukkan keberhasilannya dalam menangani masalah di Waduk Pluit, Pasar Tanah Abang, Pasar Minggu, dan Lelang Jabatan.

“Di Tanah Abang, pada hari pertama saya disarankan aparat agar jangan kesana karena suasana panas akibat penolakan PKL. Hari kedua saya tidak sabar dan maksa datang, ternyata mereka menyalami saya, termasuk yang bertato berebut salaman” kata Jokowi.

Dalam hal penghargaan terhadap pluralisme masyarakat Jakarta, Joko menceritakan pengalamannya pada waktu lelang jabatan camat dan lurah. Menurutnya, pada waktu itu ada beberapa yang minta diloloskan dengan pendekatan kesamaan agama. Jokowi menegaskan bahwal elang jabatan itu tidak didasarkan masalah agama tapi masalah kompetensi. Dengan lelang diharapkan akan didapat pejabat yang berkualitas dan berkompetensi tinggi, memiliki pengetahuan lapangan, dan ada kemauan untuk melayani rakyat.

Sementara itu direktur The Wahid Institute, Yenny Wahid menyampaikan bahwa pihaknya sengaja mengundang Jokowi karena mengapresiasi kepemimpinan gubernur DKI tersebut dalam membela masyarakat terpinggirkan dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Yenni mengaku mengikuti jejak Jokowi saat memimpin Solo.

“Beliau cukup mumpuni dalam mengelola keragaman”, kata Yenny

Pada kesempatan tersebut Jokowi diberikan cindera mata berupa peci Gus Dur yang diserahkan langsung oleh istri almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid. Selain Jokowi, acara tersebut juga dihadiri beberapa tokoh nasional seperti  Akbar Tanjung, Wiranto, Bursah Zarnubi, Djan Farid, Luhut Panjaitan, Said Aqil Siradj, Romahurmuzzi, Adhi M Massardi dan lain-lain.

The Wahid Instutute adalah lembaga yang berusaha mewujudkan prinsip dan cita-cita intelektual Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam membangun pemikiran Islam moderat yang mendorong terciptanya demokrasi, multikulturalisme, dan toleransi umat muslim di Indonesia dan seluruh dunia. Lembaga ini didirikan 7 September 2004 oleh Abdurrahman Wahid, Gregorius James Barton, Yenni Wahid, dan Ahmad Suaedy. (RH)