Rusia: Kesepakatan Resolusi PBB Hanya Akal-Akalan AS

Foto: news yahoo

Washington, Sayangi.com – Setelah berminggu-minggu tawar-menawar, Amerika Serikat, Rusia, Perancis, China dan Inggris telah menyepakati inti dari sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB untuk membersihkan Suriah dari senjata kimia. Hal ini dikatakan dua diplomat Barat. Namun, anehnya, Rusia membantah kesepakatan tersebut.

Kesepakatan itu dicapai setelah para menteri luar negeri dari lima anggota tetap Dewan Keamanan bertemu sambil makan siang dengan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pada hari sebelumnya. Namun, diplomat yang memberitahukan informasi ini tak ingin disebutkan namanya.

Mereka mengatakan, rancangan resolusi bisa disampaikan kepada dewan 15 negara sesegera mungkin. Lima anggota juga tetap akan bertemu pada Jumat (27/9) untuk membahas konferensi perdamaian Suriah yang diusulkan di Jenewa.

“Tampaknya ada hal-hal yang bergerak maju,” kata seorang sumber diplomatik Barat yang menambahkan bahwa ada kesepakatan di antara lima negara.

“Kami lebih dekat pada semua poin-poin penting,” katanya. Tapi Rusia menolak saran diplomat Barat bahwa ada kesepakatan tentang inti dari sebuah rancangan resolusi.

“Ini hanya angan-angan mereka. Ini bukan realitas. Pekerjaan pada rancangan resolusi masih berlangsung,” kata juru bicara Rusia yang menjadi delegasi PBB.

Kelima hak veto anggota tetap Dewan Keamanan Rusia, Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan China telah bernegosiasi resolusi untuk menuntut penghancuran senjata kimia Suriah agar bisa sejalan dengan kesepakatan AS-Rusia awal bulan ini.

Negosiasi yang berlangsung di New York telah berhenti. Sementara Rusia dan Amerika Serikat berjuang untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima keduanya.

Tapi tampaknya, setelah terjadi pembicaraan antara Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan timpalannya dari Rusia Sergei Lavrov, kebuntuan itu pecah.

Sebuah pertanyaan mencuat antara Rusia dan beberapa negara Barat apakah resolusi itu ditulis di bawah Bab 7 Piagam PBB, yang meliputi kewenangan Dewan Keamanan untuk menegakkan keputusan dengan langkah-langkah seperti sanksi atau kekuatan militer.

Rusia, sekutu setia Presiden Suriah Bashar al – Assad, telah dengan jelas menolak resolusi awal di bawah Bab 7 dan bahwa setiap tindakan hukuman hanya akan membuktikan Suriah tidak patuh dengan kedua resolusi dewan di bawah Bab 7.

Seorang diplomat Barat yang telah melihat draft terbaru sebelum pertemuan Ban Ki – moon mengatakan satu-satunya acuan untuk Bab 7 ini adalah untuk mengakhiri ancaman ketidakpatuhan dewan yang harus menerapkan tindakan di bawah bab 7. Untuk melaksanakan ancaman itu, resolusi kedua akan diperlukan.

Assad setuju untuk menghancurkan senjata kimia Suriah menyusul serangan gas sarin pada warga sipil di pinggiran kota Damaskus bulan lalu (serangan itu adalah serangan senjata kimia yang paling mematikan di dunia dalam 25 tahun. Red)

Washington menyalahkan pasukan Assad atas serangan yang katanya menewaskan lebih dari 1.400 orang, dan Presiden Barack Obama mengancam serangan militer AS untuk meresponnya. Rusia dan Assad menyalahkan serangan terhadap pemberontak yang berjuang untuk menggulingkan dia dalam perang sipil yang berkecamuk sejak 2011. (FIT/ The telegraph)