Fakta Ilmiah Dibalik Misteri Jenglot

Foto: Sayangi.com/Ardhy

Sayangi.com – Minggu lalu (19/9), media ini memberitakan penemuan sesosok jenglotĀ  di satu perumahan kawasan Jaka Baring, Palembang (baca: Heboh! Sesosok Jenglot Ditemukan di Palembang). Banyak tanggapan tentang berita tersebut; ada yang mengatakan penasaran, tetapi ada juga yang mengatakan itu kebohongan, sesosok makhluk itu hanyalah seekor kelelawar yang dikeringkan.

Apakah benar jenglot itu adalah kelelawar yang dikeringkan, atau seperti anggapan banyak orang benar-benar merupakan manusia sakti yang menyusut setelah meninggal dunia dalam rentang waktu ratusan tahun, atau bahkan ribuan tahun lalu? Entahlah. Belum ada satu pun kesimpulan yang pasti tentang makhluk yang bertaring dengan rambut yang lebih panjang daru ukuran tubuhnya ini.

Untuk menjawab rasa penawaran para penanggap tersebut, berikut ini hasil jelajah Sayangi.com tentang info jenglot di dunia maya. Dalam situs http://beda-dunia.blogspot.com ditemukan satu kajian ilmiah tentang jenglot. Apakah ini benar? Mari kita ikuti informasi ini

1. Jenglot mempunyai DNA manusia tetapi tidak memiliki tulang

Dokter Djaja Surya Atmaja, pakar DNA forensik UI, setelah melakukan test DNA, menyatakan, bahwa jenglot memiliki DNA manusia, bukan dari primata atau yang lainnya.

Tetapi dari hasil rontgen makhluk misterius ini tidak menunjukkan adanya tulang, jantung, paru paru atau bagian organ dalam manusia lainnya. Dengan demikian, jenglot tidak sama dengan manusia.

Menurut penafsiran yang mengirim tulisa ini (tidak diketahui namanya) ini adalah boneka kecil berbentuk manusia tanpa menggunakan rangka. Sebab jika terlalu besar tentu saja akan runtuh karena tak ada tulangnya. Tapi bila kecil cukup ditopang saja dengan sebuah penyangga kecil, ini menjelaskan penyangga yang terlihat dari hasil uji rontgen. Lalu bagaimana caranya mendapatkan daging dan kulitnya, daging manusia tentu saja didapatkan dari manusia itu sendiri.

Pada kenyataan di jaman dahulu telah banyak penggunaan metode seperti ini dalam membuat mumi, salah satu contohnya dari mesir yang dikenal dengan sebutan “fake mummy”, bukti lain adalah bentuk jenglot yang tidak dapat sama dengan detail tubuh manusia, hanya menyerupai saja, dan ini terjadi pada semua jenglot. Mengapa? Karena sulit sekali membuat struktur tubuh manusia.

Salah satu masalah lagi adanya klaim dari Universitas Sains Malaysia kalau rambut dari jenglot itu tumbuh memanjang. Sebenarnya itu adalah ilusi optik. Seperti pada orang yang meninggal, ia kehilangan air dan kelembaban yang pada akhirnya akan menjadi kering dan membuat kulit mengerut di sekitar kepala dan kuku, inilah yang membuat rambut dan kuku yang ditanamkan dapat mencuat keluar. Sebenarnya perawatan pada mayat adalah dengan menyiramnya dengan air sehingga kelembaban tetap terjaga.

2. Banyaknya bentuk-bentuk jenglot

Tak hanya berbentuk manusia, tetapi banyak juga jenglot yang bebentuk setengah ular, monster, ikan dan lain-lain, tetapi tentu saja semuanya berukuran kecil. Kemungkinan ini adalah untuk variasi saja atau pembuat jenglot ini merasa kesusahan membuat bentuk mirip dengan manusia.Jadi, untuk menghindarinya cukup dengan mengganti bentuk bentuk yang gampang dibuat seperti di atas.

3. Tidak ada bukti jenglot bergerak

Jenglot adalah boneka, bukan robot. Tanpa rangka tentu saja tak dapat bergerak. Hingga kini juga tak pernah ada video yang menunjukkan gerakan jenglot.

4. Pemilik tidak berani jenglotnya dibedah

Alasannya karena tidak mau ada hal hal yang tidak baik terjadi. Tetapi saat penelitian dilakukan dengan bermacam macam cara dan alat, ternyata tidak ada sesuatu yang ganjil dan aneh terjadi. Apakah pemiliknya takut ketahuan jika DNA dari daging dan tulang penyangga berbeda? Atau mungkin penyangganya terbuat dari bahan selain tulang, kayu mungkin. Dan juga apakah takut ketahuan jika daging dan tulang tidak melekat dengan sempurna. Tes rontgen memang tidak dapat menjelaskan ini, tapi dengan pembedahan semuanya dapat terjawab.

5. Jenglot berusia ribuan tahun

Dari hasil pengkuran usia diketahui bahwa jenglot berusia ribuan tahun dengan yang tertua 3112 tahun. Pada masa itulah yang namanya animisme berkembang, jadi wajar jika manusia pada jaman dahulu membuat benda seperti ini sebagai media ritual.

6. Bukti Antropologi

Jenglot tak hanya ada di Indonesia dan Malaysia saja, tetapi di Thailand juga ada benda serupa yang disebut “gumam thong”. Secara singkatnya dengan prinsip yang hampir sama, “gumam thong” dan jenglot adalah sama sama untuk tujuan spiritual.

Cerita yang menyertai jenglot adalah menceritakan jenglot itu dulunya adalah seorang yang sakti dan ketika mati tubuhnya menjadi mumi hingga mengecil hingga ukuran belasan centimeter itu. Memang proses mumifikasi seperti itu ada, tetapi seperti mumi dende di Toraja hanya mampu mengerutkannya hingga mencapai ukuran 90cm saja. Karena kerangkanya tak dapat dikerutkan.

7. Proses Mumifikasi

Manusia terdiri dari 80% air dan cairan. Saat mati cairan itu akan terus berkurang dan membuat tubuh mengerut, tetapi tidak dengan rangkanya.

Sekarang mungkinkah mengecilkan mayat dapat dilakukan? Hal itu dapat dilakukan tetapi tentu saja dengan proses yang sangat rumit, seluruh tulangnya harus dibuang. Dengan cara ini paling tidak ukuran dewasa dapat dikecilkan hingga ukuran 26inch / 78 cm, masih jauh dari ukuran belasan centi.

8. Tidak ada bentuk transisi

Di mesir selain manusia juga ada mumi hewan, di peru juga ditemukan kepala yang dikecilkan. Ada transisi tingkat kesulitan, jika jenglot adalah mumi bayi, anak kecil maupun orang kerdil yang dimumikan. Maka mana transisinya? Usaha untuk membuat benda kecil dengan detail pemumian bukanlah hal yang bisa langsung jadi, harusnya orang memulai dulu dengan objek manusia yang lebih besar. Tetapi hingga saat ini bukti seperti ini tidak ditemukan.

Bagaimana dengan praktek membuat mumi di daerah lain seperti di Toraja dan Papua? Mumi disana dibuat dengan cara yang sederhana, ukurannya juga tidak jauh dengan ukuran aslinya, ia hanya menyusut karena dehidrasi. Praktek kimia yang dilakukan pada mumi juga hanya bertujuan untuk mengawetkannya, bukan menyusutkannya.

Maka dari itulah berdasarkan bukti bukti dan fakta fakta yang ada maka dapat disimpulkan bahwa jenglot tidak lebih dari hanya sekedar boneka saja.

Lalu pasti ada yang bertanya bagaimana dengan kekuatan mistis atau supranatural lainya? Pemilik jenglot memang boleh berargumen seperti itu dan mungkin paranormal lainya juga mengatakan demikian. Tetapi apakah mereka bisa membuktikan keberadaan kekuatan itu kepada khalayak umum? Saya rasa tidak, orang seperti ini dan media massa butuh sensasi agar mereka tetap eksis, jadi memelihara hal hal yang di luar nalar seperti ini adalah salah satu caranya.

Sumber : http://beda-dunia.blogspot.com