Muhamad Ali Pernah Dimata-matai Pemerintah AS

Foto : Sayangi.com/doc

Washington DC, AS, Sayangi.com – Pemerintah memata-matai warga negaranya memang biasa dilakukan oleh negara-negara otoriter. Bukan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang dipuja-puja sebagai kampiun demokrasi.

Faktanya, berdasarkan dokumen rahasia yang dirilis ke publik, pemerintah AS lewat National Security Agency (NSA/Badan Keamanan Nasional) pernah memata-matai sejumlah warga negaranya.

Mereka antara lain, juara tinju kelas berat Muhammad Ali, pemimpin gerakan sipil Marthin Luther King, Senator Demokrat Frank Church dan politisi Republikan Howard Baker.

Praktek kotor itu sebenarnya kurang disetujui sejumlah pejabat NSA yang menyebutnya sebagai tindakan hina. Bahkan, tahun 1970-an, operasi mata-mata bernama Minaret itu sudah terkuak. Namun sejumlah nama yang teleponnya disadap tetap dirahasiakan, hingga kini.

Terkait Perang Vietnam

Operasi itu erat berkait kecurigaan Presiden Lyndon Johnson atas merebaknya protes perang Vietnam pada 1967. Presiden ingin memastikan, mewabahnya protes itu tidak ditunggangi oleh negara lain.

Sejak itu, NSA diperintahkan menyusun daftar nama yang menjadi target pengawasan. Telepon orang-orang itu pun disadap.

Proyek mata-mata itu ternyata terus diwariskan ke Presiden Richard Nixon pada 1969, sebelum akhirnya dihentikan seiring terbongkarnya skandal “Water Gate”.

Kini dokumen rahasia itu boleh dibuka ke publik, setelah pemerintah mengabulkan permintaan peneliti dari George Washington University.

Di Universitas yang cukup bergengsi di negeri Paman Sam itu, memang memiliki Lembaga Arsip Keamanan Nasional yang diberi otoritas melakukan penelitian data-data rahasia pemerintah di masa lalu.

Praktek mata-mata yang dilakukan pemerintah AS terhadap warganya sendiri, disebut peneliti di lembaga itu sesuatu yang mengejutkan.

NSA telah dianggap melanggar privasi, sesuatu yang sangat dilindungi oleh Konstitusi AS. Karena lewat dokumen yang diungkap, NSA setidaknya ribuan kali dalam setahun melakukan penyadapan email dan pembicaraan telepon. (MARD)