Jejak Fenomenal Mun’im: Kasus Munir hingga Soekarno

Foto: Antara

Jakarta, Sayangi.com – Mun’im Idris dikenal sebagai pakar yang vokal dan berani berpendapat berbeda demi kebenaran yang diyakininya. Itulah yang membuat almarhum Abdul Mun’im Indris yang meninggal dunia dini hari ini, Jumat (27/9), begitu fenomenal.

Langkah fenomenal paling akhir yang dilakukan sang pakar forensik adalah saat dia menerbitkan buku di sekitar pertengahan tahun 2013 ini. Buku yang menggegerkan itu, “X-Files: Mengungkap Fakta Kematian Bung Karno Sampai Munir”. Isinya mengungkapkan apa yang Mun’im kerjakan di sejumlah kasus besar dan analisisnya tentang kematian Presiden Pertama RI, Bung Karno. Di buku itu pula, bahasa rumit ilmu forensik dijabarkannya secara populer, sehingga mudah dipahami awam.

Bicara tentang kasus terbunuhnya Munir pada 7 September 2004 misalnya, Mun’im yang saat itu sempat menjadi anggota tim pencari fakta menceritakan bagaimana dia dan timnya akhirnya bisa menemukan bukti-bukti yang menjerat pelaku pembunuhan Munir.

Dia dan timnya membalikkan keyakinan sementara orang, yang percaya bahwa Munir diracuni di pesawat Garuda jurusan Jakarta-Den Haag. Polisi dan jaksa yakin racun arsenik dimasukkan ke dalam mie goreng Munir, namun hakim di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta berpendapat, racun dimasukkan ke dalam jus jeruk. Karena tak ada fakta yang bisa mengaitkan tersangka Pollycarpus Budihari Priyanto dengan insiden di atas pesawat, pada Oktober 2006 Polly dinyatakan bebas oleh Mahkamah Agung.

Tak puas dengan putusan MA, Jenderal (Purn) Bambang Hendarso Danuri – saat itu Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri – minta Mun’im Idris kembali mempelajari kasus itu. Mun’im dan tim pencari pun menuju Singapura untuk melacak kira-kira di mana racun yang menewaskan Munir diberikan. Setelah melakukan sejumlah tes, akhirnya didapat fakta, racun arsenik baru bereaksi 30 menit setelah diberikan, sedangkan Jakarta-Singapura makan waktu 90 menit. Nah, di sini Mun’im mencium kejanggalan.

Dia menduga, tempat kejadian perkara (TKP) sebenarnya di Jakarta. Tapi alternatif itu dikesampingkan, karena kurang kuatnya bukti-bukti. Alhasil, berdasarkan fakta-fakta yang ada, tim mengambil kesimpulan Munir tidak dibunuh di atas pesawat Garuda, tapi di Coffee Bean di Bandara Changi, Singapura. Setelah minum di Coffee Bean, Munir sakit perut dan minta obat maag. Setelah itu, Munir muntah dan kejang sebelum meninggal.

Berkat temuan Mun’im dan timnya itulah, Mabes Polri dan Kejaksaan Agung mengajukan peninjauan kembali (PK) atas vonis Mahkamah Agung. Pada 2007, Pollycarpus pun divonis 20 tahun penjara.

Di bukunya, Mun’im juga mengupas analisis tentang kematian Presiden pertama RI, Soekarno. Kesimpulan Mun’im terhadap meninggalnya Soekarno adalah lantaran negara tiba-tiba menutup semua gerak gerak dan mengerangkeng Soekarno yang dikenal sebagai manusia yang sangat aktif. “Hal itu bisa mematikan untuk manusia seaktif Bung Karno,” katanya.

Mun’im memang tidak pernah melakukan pemeriksaan langsung atas fisik almarhum Soekarno, namun berdasarkan informasi-informasi yang dikumpulkannya dari media massa, sebagai seorang pakar forensik, ia berani menyimpulkan seperti itu. Kata Mun’im, Bung Karno memang sakit-sakitan, tapi itu hanya salah satu sebab minor. Penyebab mayornya ya itu, karena Bung Karno dikerangkeng. (MSR)