JK: Ujian Nasional Itu Meningkatkan Harkat Bangsa

Foto: Sayangi.com/Husain Abdullah

Jakarta, Sayangi.com – Dalam sambutannya pada Konvensi Ujian Nasional di Jakarta Kamis (26/9), Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan bahwa pelaksanaan ujian nasional (UN) adalah perlu dan penting untuk mencerdaskan bangsa.

“Maka dari itu UN itu harus ada. Tidak ada negara yang besar dengan sekolah yang santai. Tunjukkan pada saya mana negara maju yang sekolahnya santai? Anda bisa bandingkan bagaimana anak-anak China dan Singapura belajar,” tukas JK.

Pencetusan ide tentang UN dimulai ketika JK menjabat sebagai Menko Kesra RI. Cerita JK, waktu itu ia melihat kalau banyak anak-anak muda Indonesia kebanyakan hanya santai-santai. “Saya lihat mereka tak mau belajar karena buat apa belajar kalau kita semua pasti lulus, termasuk keponakan saya sendiri,” ujar Wakil Presiden RI 2004-2009 ini.

Kemalasan anak muda ini membuat JK makin gemas ketika pada waktu itu ia meminta pejabat terkait untuk membandingkan ujian di Indonesia dengan yang ada di negara lain. Waktu itu, kata JK, ditemukan bahwa ujian Bahasa Inggris untuk anak SD di Malaysia ternyata seperti ujian Bahasa Inggris SMA di Indonesia.

“Bayangkan, kita tertinggal enam tahun dengan mereka!” tegas JK, “Karena itulah kita hanya bisa jadi TKW di Malaysia! Karena nilai kita jauh kalah.”

Dalam hal ini, JK menekankan dua hal penting yang perlu menjadi perhatian. Pertama, pendidikan Indonesia harus punya standar yang sifatnya nasional. Kedua, harus ada dorongan untuk anak biar belajar.

JK juga katakan juga bahwa negara yang sekarang rakyatnya santai-santai adalah Amerika Serikat. Ini menyebabkan jumlah lulusan cum laude di sana, 60%-nya adalah orang Asia. Maka dari itu, JK tegaskan bawa kita jangan berusaha menyesuaikan cara belajar dengan keadaan yang ada, tapi keadaan harus disesuaikan dengan standar belajar yang dibutuhkan agar bangsa ini lebih cerdas.

“Ujian nasional itu meningkatkan harkat bangsa,” tegas JK yang juga Ketua Palang Merah Indonesia yang juga menjadi kepada lima yayasan pendidikan berbeda ini. Karena jika tidak, kata JK, yang terjadi adalah kasta-kasta dalam dunia pendidikan yang baginya mengkhawatirkan.
“Jadi, (jika tak ada ujian nasional) akan muncul kasta sekolah yang bayar mahal dengan yang murah, muncul juga kasta untuk daerah pintar dan tidak pintar,” ujar JK.

Menanggapi soal polemik bahwa banyak siswa yang stres karena UN ini, JK menyatakan bahwa yang stres itu karena mereka tidak belajar. “Dan stres itu bukan hanya soal ujian, kehilangan pekerjaan juga stres, naik turun pangkat juga stres. Jadi belajarlah,” katanya.

JK menegaskan bahwa tujuan UN itu adalah untuk mencerdaskan bangsa. Pasti ada yang tidak lulus. Itulah namanya ujian, kata JK. “Anda harus tahu, standarnya dulu sudah kita turunkan dari 5 hingga ke 3,5 dengan tingkat ketidaklulusan 20%. Tapi anda harus tahu di Singapura itu 8 dan di Malaysia 6 (standarnya) dengan soal yang lebih sulit,” cerita JK.

Tujuan JK mempertahankan UN ini tentu dapat dipahami dengan jelas, bahwa Indonesia harus cerdas dan bermartabat. Melalui pendidikan yang baik, JK pasang badan buat UN.

Sikap dan tujuan JK ini rupanya juga ada sebagian pihak yang menentang. Menanggapi tentangan-tentangan yang muncul, JK berargumen bahwa manajemennya yang harus diperbaiki, jangan UN-nya disalahkan.

Sebab, rupanya budaya bangsa ini terlalu permisif. Karena, tegas JK, jika kita permisif, kita kembali ke kasta pembodohan.  (Sumber : Husain Abdullah, Media Officer M. Jusuf Kalla)