Wae Rebo, Keindahan Kampung di Atas Awan

Foto: Sayangi.com/Tri Harningsih

Manggarai, Sayangi.com – Tak ada sekolah, pun tak ada rumah-rumah mewah, hanya ada tujuh rumah super sederhana nan unik yang menghuni desa yang diselimuti kabut-kabut mesra penuh dendang kedamaian di pulau Flores ini. Namun hebatnya, desa ini pernah menyabet penghargaan kelas dunia dari UNESCO.

Desa Wae Rebo, Indonesia menamainya. Sebuah kampung kecil dalam dusun terpencil di desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Terletak di ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut, dipagari perbukitan, lembah serta hutan nan asri.

Wae Rebo sering kali diselimuti kabut jika dilihat dari kejauhan. Itu sebabnya banyak wisatawan menyebut Wae Rebo sebagai kampung diatas awan. Belum banyak orang yang tahu tentang kecantikannya yang unik, untuk mengetahuinya pun anda butuh perjuangan selama 4 jam pendakian menyusuri hutan liar lengkap dengan para satwanya, termasuk kicauan merdu dari burung Pacycepal.

Untuk mengaksesnya dari perkotaan, anda bisa memulai perjalanan dengan mini bus dari Ruteng ke Kampung Denge, jalan beraspal terakhir sebelum mendaki ke Wae Rebo. Jalan ke Denge bisa ditempuh sekitar 5 jam lebih dengan berjalan kaki atau sekitar 3 jam dengan menggunakan jasa ojek sepeda motor.

Kampung dengan julukan negeri di atas awan ini sungguhlah sangat harmoni, dengan lansekap alam yang eksotis. Pun dengan keramahan masyarakatnya yang hidup penuh rukun dalam kesederhanaan. Kampung mungil ini diapit oleh dua gunung perkasa, Gunung Tongkor Kina dan Gunung Porto (kawasan enklave hutan). Udara segar menyebar disempurnakan dengan alam yang fantastis.

Kampung kuno ini memiliki rumah adat yang konon telah dibangun sejak ratusan tahun yang lalu. Bentuknya setali tiga uang dengan kerucut, sedangkan atapnya terbuat dari daun lontar. Warga lokal menyebut rumah adat ini dengan nama ‘Mbaru Niang‘.

Mbaru Niang terdiri dari 5 tingkatan. Masing-masing tingkatan memiliki fungsinya sendiri. Tingkat pertama adalah ‘Lutur‘ yang berarti tenda.

Tingkatan ini digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat. Tingkat kedua adalah ‘Lobo’ yakni loteng yang berfungsi menyimpan bahan makanan dan barang-barang lainnya. Tingkat ketiga adalah ‘lentar’ yang digunakan untuk menyimpan benih-benih seperti jagung, padi, kacang-kacangan, dan lain-lain.

Tingkat keempat disebut ‘Lempa Rae’ berfungsi sebagai tempat stok makanan cadangan yang digunakan ketika terjadi gagal panen atau musim kemarau berkepanjangan. Sedangkan tingkat kelima dijuluki ‘Hekang Kode ‘ yang digunakan untuk menyimpan langkar, yaitu semacam anyaman dari bambu berbentuk persegi, yang berguna untuk menyimpan sesajian yang akan dipersembahkan pada sang leluhur.

Tak puas hanya mampir, anda bisa menginap di rumah penduduk di kampung ini, suatu pengalaman yang tidak anda dapatkan ditempat lain bukan? Penginapan Dengeyang merupakan pusat informasi Wae Rebo juga dapat menjadi alternative pilihan, dimiliki oleh Bapak Blasius Monta yang berprofesi sebagai seorang Kepala Sekolah. Anda bisa menyelami kehidupan suku dikampung ini, bagaimana adat istiadat mereka kala penyambutan tamu, hingga mencicipi makanan khas ala kampung kuno ini. (FIT)