PM Tony Abbott ke Jakarta Untuk Redakan Ketegangan

Foto: smh.com.au

Canberra, Sayangi.com – Pemerintah konservatif baru Australia menepis kekhawatiran tegangnya hubungan dengan Indonesia, terkait keamanan perbatasan yang melibatkan kapal pencari suaka. Perdana Menteri Tony Abbott menyebut kekhawatiran itu gangguan yang akan segera berlalu.

Tony Abbott yang menang Pemilihan Umum pada 7 September lalu sekaligus menepis komentar Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa. “Hal yang paling tidak ingin saya lakukan adalah apapun yang tidak menunjukkan rasa hormat sepenuhnya atas kedaulatan Indonesia,” katanya.

Abbott akan bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono minggu depan untuk mencari dukungan terhadap rencananya yang ingin menempatkan Angkatan laut Australia untuk mengusir pencari suaka dan menghentikan penyelundup yang beroperasi, terutama dari pelabuhan Indonesia.

Namun rencana tersebut ditentang negara tetangga dengan 245 juta penduduk itu. Sejumlah anggota parlemen, termasuk Marty Natalegawa mengeritik tajam kebijakan Abbott untuk membeli perahu-perahu nelayan supaya tidak jatuh ke tangan para penyelundup manusia serta menyertakan polisi Australia di desa-desa Indonesia dan membayar warga lokal untuk memberikan laporan intelijen.

Dalam sebuah transkrip pertemuan antara Marty dan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop di New York yang dirilis di Jakarta, Menlu Indonesia memperingatkan bahwa masalah ini bisa mengancam hubungan kedua negara jika dipaksakan sepihak oleh Canberra.

Rekaman pembicaraan tersebut – Kedutaan Besar Indonesia di Canberra mengatakan hal tersebut tidak untuk menciptakan kesan perselisihan – menepis pernyataan Bishop sebelumnya yang menyatakan bahwa pertemuan dengan rekan veterannya tersebut berlangsung ramah dan positif. Rekaman tersebut segera dihapus dari situs Kemenlu setelah memicu badai di media Australia. Pejabat Indonesia tidak bersedia untuk berkomentar.

Abbott menempatkan Indonesia sebagai “relasi Australia yang paling penting” dan berusaha menepis persepsi keretakan yang bisa mengancam ambisi negaranya untuk memperluas hubungan perdagangan dan politik dengan negara tetangganya di Asia.

Abbott berjanji untuk menjadi Perdana Menteri “pertama Asia”, yang mengunjungi mitra perdagangan regional menghadapi sekutu seperti Amerika Serikat dan Inggris, menjadi bagian untuk membantu mengatasi perlambatan ekonomi dengan 1,5 triliun dollar, 12 terbesar di dunia.

Dia berharap kunjungannya yang akan didampingi oleh Bishop, Menteri Perdagangan Andrew Robb dan 20 orang bisnis senior, akan menjadi preseden bagi para pemimpin Australia masa depan untuk membuat Jakarta sebagai pelabuhan luar negeri pertama mereka. “Hal ini akan mengirim pertanda yang jelas ke kawasan bahwa hubungan dengan tetangga terdekat adalah yang paling penting untuk masa depan Australia,” kata Abbott dalam sebuah pernyataan.

Namun, mantan Menlu Australia Alexander Downer, yang menjadi mentor Bishop, mengkritik pendapat Marty terhadap Canberra dan mengatakan awak-awak kapal Indonesia tengah melanggar kedaulatan Australia. “Ini melanggar kedaulatan kami dan penduduk Indonesia perlu memahami, bukannya banyak beretorika tentang Pemerintah Australia yang melanggar kedaulatan mereka,” kata Downer kepada televisi Australia.

Kedua anggota G20 tersebut memiliki riwayat hubungan yang kadang-kadang rapuh mengingat masa Pemerintahan mantan Presiden Soeharto antara tahun 1966 dan 1998, termasuk invasi Indonesia 1975 ke Timor Leste, bekas jajahan portugis di barat laut Darwin, Australia.

Sejak pemilu 2004, Presiden SBY membangun kembali hubungan dengan Australia melalui bantuan yang diberikan untuk Indonesia senilai 574 juta dollar Australia tahun lalu. Presiden SBY biasanya bersedia memperhalus kritik terhadap Australia, tapi dia juga merupakan satu-satunya pemimpin Indonesia yang menarik duta besarnya dari Australia, ironisnya Australia menerima suaka 43 pembelot dari Papua. (MSR/ANT)