Granat Cirendeu, Bukti Kelompok Bersenjata Kian Meresahkan

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Peristiwa penggranatan di Cirendeu diduga berlatar belakang konflik hubungan bisnis atau sengketa hubungan interpersonal. Namun Polri harus makin waspada dengan adanya kelompok bersenjata yang siap melakukan apa saja di luar sana.

“Penggranatan di Cireundeu diyakini tidak terkait dengan terorisme, juga bukan rangkaian peristiwa penembakan terhadap anggota Polri,” ujar Direktur Seven Strategies Studies (7SS) Mulyana W Kusuma, Sabtu
(28/9). Pelaku melakukan eskalasi ancaman kekerasan dengan menggunakan granat sebagai cara untuk menekan korban agar tunduk pada keinginan pelaku.

Namun, Polri jangan lupa, granat di Perum Tamansari Baliview Cireundeu itu harus segera diungkap cepat dan tuntas oleh Polri, karena kembali memperkuat indikasi adanya kelompok bersenjata dengan berbagai latar belakang sosial. Kelompok-kelompok tersebut memiliki senjata api ilegal (termasuk granat) dan siap secara fisik, juga secara mental, mempunyai keberanian mengambil risiko, dan kemampuan teknis untuk beroperasi dengan dampak menimbulkan gangguan serius atas rasa aman masyarakat.

“Polri harus menyadari, granat tangan (*hand grenade*) ilegal berbagai tipe, antara lain granat manggis Korea, granat defensif maupun ofensif berasal dari daerah konflik, diyakini masih banyak beredar,” pungkas krimonilog Universitas Indonesia (UI) Jakarta itu.

Sebagaimana dibuktikan dalam beberapa temuan Polri maupun warga masyarakat, banyak granat ilegal yang beredar. Dalam hubungan itu, Polri harus kembali secara efektif mengintensifkan pemberantasan senjata api ilegal, termasuk granat.

Mulyana mengingatkan, para pelaku sebagai kelompok, merasa memiliki kekuatan memadai menghadapi tindakan hukum, karena kekerasan menggunakan granat ilegal sudah pasti risiko tinggi untuk dapat segera diungkap
jajaran Polri. “Bukan mustahil kelompok pelaku memiliki *backing* yang oleh mereka diyakini kuat dan sanggup menghadapi penindakan oleh Polri,” tuturnya. (MSR)