Di Tengah Aura Panas, Abbott-SBY Harus Duduk Sama Rendah

Foto: ABC

Jakarta, Sayangi.com – Senin (30/9) lusa, Perdana Menteri Australia Tony Abbott berkunjung ke Indonesia. Di tengah isu pengembalian sekitar 40-an pencari suaka berkapal Indonesia kemarin, aura panas pertemuan Abbott dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terasa menyengat.

Sebuah kapal Pemerintah Australia baru-baru ini menyelamatkan 44 pencari suaka dan dua awak kapal, atas permintaan Basarnas, setelah kapal tersebut mengalami masalah sekitar 74 km dari pantai Pulau Jawa, Kamis (26/09) pagi. Jum’at dini hari, Basarnas bertemu dengan kapal Angkatan Laut Australia di lepas pantai Jawa dan para pencari suaka tersebut diserahkan ke pihak Indonesia.

Salah satu awak Indonesia menyatakan, Angkatan Laut Australia kemudian membakar kapal yang dinaiki pencari suaka itu setelah menjemput mereka. Tindakan mengembalikan pencari suaka dan membakar kapal ini merupakan yang pertama dalam enam tahun Pemerintahan Australia di bawah Partai Buruh. Saat ini, Pemerintahan Australia dipimpin oleh pihak koalisi, yang memenangkan pemilihan umum tanggal 7 September lalu.   

Kapal pencari suaka yang berisi 46 orang itu awalnya melakukan panggilan darurat (distress call). Suyatno, kepala operasional Basarnas Jakarta, menyatakan bahwa Basarnas tidak memiliki kemampuan mencapai kapal tersebut. Angkatan Laut Australia pun mencegat kapal itu dan memberi tahu Basarnas bahwa mereka akan mengantar para pencari suaka kembali.

Menurut Suyatno, ia tidak tahu mengapa Australia tidak membawa para pencari suaka itu ke Christmas Island. Menurut salah satu awak kapal, Azam, kapal itu tidak rusak, meskipun penumpangnya memanggil ke Australia agar mereka diselamatkan.  

Sementara itu, Greg Jennet, Kepala Biro Parliament House ABC menjelaskan, penyelamatan dan pembakaran kapal ini tidak serta merta berarti “penghalauan kembali” (turnback) kapal. Namun ini menyiratkan pendekatan yang lebih tegas oleh Australia. Ini juga dapat menjadi preseden bagi Indonesia, yang menyatakan syarat meminta tolong terhadap Australia untuk penyelamatan atau pencegatan adalah para penumpang dikembalikan ke Indonesia.

Masyarakat luas mungkin tidak mengetahui hal ini, karena Pemerintah Australia tetap pada kebijakannya untuk tidak berkomentar tentang rincian operasional pencegatan di laut di bawah Operation Sovereign Borders. Penumpang kapal pencari suaka itu sendiri dikabarkan berasal dari Irak, Iran dan Pakistan. Azam sendiri mengaku ditipu untuk mengawaki kapal hingga ke Australia.

Di tengah aura panas itulah, pertemuan PM Tony Abbott dan Presiden SBY dijadwalkan berlangsung pada Senin (30/9). Pakar politik dan strategi Indonesia Philips Vermonte dari Centre for International and Strategic Studies (CSIS) di Jakarta berharap Australia bisa memperluas perbincangan untuk bekerja sama dengan Indonesia di berbagai isu.

“Kami memahami ada isu yang menjadi perhatian dari sisi Australia, berupa isu keamanan nontradisional seperti imigrasi dan perdagangan ilegal,” katanya. Menurut Philips, kedua negara harus berbicara satu sama lain tanpa ada yang saling merendahkan.

“Saya yakin Indonesia akan menolong, karena isu itu juga menjadi perhatian Indonesia. Indonesia juga kesulitan soal pencari suaka. Ini menjadi perhatian kedua negara untuk mencari solusi yang tepat,” lanjut Vermonte.

Sementara pengamat ekonomi dan politik Indonesia dari Australian National University, Professor Hal Hall, meyebutkan bahwa Australia dan Indonesia bisa bekerja sama, tapi Australia harus perlahan-lahan. “Kabar baiknya adalah Perdana Menteri Abbott menginginkan politik luar negerinya fokus ke Jakarta dan itu sangat menggembirakan,” nilainya.

“Tantangannya, kami belum melihat kalau Pemerintah baru Australia berniat untuk memperluas agenda bagi isu-isu yang penting juga buat Indonesia, bukan hanya penting buat Australia,” tutupnya. (MSR/ABC)