Terpidana Mati Wilfrida Korban Perdagangan Anak

Sumber : bawso.org.uk

Kuala Lumpur, Malaysia, Sayangi.com – Wilfrida Soik (17) asal Desa Paturika, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah korban perdagangan anak di bawah umur, karena ada dugaan kuat dia dipaksa bekerja di luar negeri pada saat masih berusia 14 tahun saat itu (tahun 2010). Saat itu, gadis tersebut diterbangkan dari Kupang ke Jakarta lalu ke Kualalumpur dan langsung dibawa ke Kelantan.

Pada 7 Desember 2010, Inspektur Raja Munawwir – yang bertugas sebagai polisi – menerima pengaduan melalui telepon mengenai terjadinya pembunuhan terhadap Yeap Seok Pen di rumahnya Lot 1725 Lubuk Tengah 17000 Pasir Mas Kelantan. Pihak kepolisian kemudian menangkap Walfrida, lalu menahannya di Penjara Pengkalan Chepa, Kota Bahru, Kelantan.

Terkait kasus Walfrida ini, Polres Belu pada 13 Januari 2011 menerbitkan Surat Tanda Penerimaan Laporan dari seorang perempuan bernama Yuliana Bui (40). Dalam laporan itu disebutkan peristiwa pidana berupa “Perekrutan dan Penempatan TKI di bawah Umur ke luar negeri” yang terjadi pada September 2010 bertempat di Talaru, Desa Renrua, Kabupaten Belu, oleh Serafina Rafu dan Frida Abuk (terlapor) terhadap korban atas nama Walfrida Soik.

Saat ini Wilfrida terancam hukuman mati di Kota Bharu, Kelantan, Malaysia. Ia dituduh melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap majikannya itu. Keluarga berharap aparat kepolisian menindak tegas oknum calo yang mengirim Walfrida ke Malaysia secara diam-diam. “Keluarga dan masyarakat berharap gadis itu tidak dihukum mati, karena dia merupakan korban perdagangan manusia,” kata Yuliana.

Data Organisasi PBB urusan Migrasi (IOM) menunjukkan, jumlah korban perdagangan anak hingga Juni 2013 tercatat 3.943 orang. “Dari total itu anak-anak dan perempuan menempati posisi terbanyak yaitu 3.559, sehingga benar-benar memprihatinkan dan perlu penanganan serius untuk tindakan pencegahan dan perbaikan secara menyeluruh,” kata Paul, Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) Nusa Tenggara Timur.

Menurut dia, modus perdagangan anak dan perempuan itu telah menempatkan NTT ketiga terbanyak dalam kasus “traffiking” (perdagangan manusia) secara nasional. (Ant)