Lulusan SD Lebih Diminati dalam Perdagangan Anak

Sumber : www.lcpdancetheatre.com

Sukabumi, Sayangi.com – Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KNPAI) mengungkapkan adanya modus baru dalam perdagangan anak. SY (15 tahun) berhasil dievakuasi dari sebuah tempat pelatihan kerja yang akan mengirimnya ke Suriah, setelah suaminya, Ruhan (22 tahun) diduga telah menjualnya ke sebuah agen yang kemudian menempatkannya di sana.

“Aku mau suamiku ketangkep,” kata SY, gadis bertubuh mungil itu di kantor KNPAI.

SY mengungkapkan, dia telah dinikahi secara siri oleh Ruhan alias Gunawan di tempat asalnya di Kali Tanjung, Cirebon, Jawa Barat, Februari lalu. Namun, sejak menikah itu, hubungan suami-istri tak terjalin karena dia dan Ruhan tinggal berpisah. Selang beberapa hari, baru Ruhan muncul lagi dan memaksanya bekerja sebagai tenaga kerja wanita di luar negeri.

SY lalu dibawa ke sebuah penampungan tenaga kerja di Cirebon, yang kemudian memindahkannya ke perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia di Ciangsana, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Sejak itu, dia tak pernah bertemu dengan Ruhan hingga akhirnya dievakuasi dua bulan berselang setelah melapor diam-diam ke kepolisian setempat.

Sementara itu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat menyebutkan saat ini pelaku perdagangan manusia mulai mencari korbannya anak tingkat sekolah dasar, khususnya pelajar perempuan diduga untuk dijadikan pekerja seks komersial,” kata Ketua P2TP2A Kabupaten Sukabumi, Elis Nurbaeti.

Dipilihnya anak SD untuk dieksploitasi karena mereka lebih mudah tertipu dan tubuh anak kelas VI SD sekarang bongsor. Para pelaku perdagangan manusia menyebut anak SD yang menjadi korbannya “ayam merah”. Anak SMP “ayam biru”dan anak SMA “ayam abu-abu” sesuai dengan warna seragam mereka.

“Anak yang menjadi korban tidak hanya dieksploitasi menjadi PSK juga dipekerjakan sebagai budak termasuk menjadi pekerja rumah tangga. Seumuran anak SD sudah pasti sulit untuk melawan dan mudah terbujuk oleh iming-iming sesuatu karena sifat warga Sukabumi yang dikenal konsumtif,” katanya.

Sejak Januari hingga September 2013 ini P2TP2A Kabupaten Sukabumi mengungkap 28 kasus perdagangan manusia dan 60 persen kasus tersebut melibatkan anak di bawah umur (18 tahun ke bawah).

Kabupaten Sukabumi berada di urutan ketiga di Jabar setelah Indramayu dan Kota Bandung dalam kasus perdagangan manusia. Dari data P2TP2A Kabupaten Sukabumi, para ABG itu sebagian besar dijual ke tempat-tempat hiburan malam di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Bahkan ada juga beberapa ABG yang dijual ke Malaysia dan Brunei Darussalam.

“Tingginya kasus perdagangan manusia di Sukabumi tidak lagi disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi tren masyarakat yang konsumtif. Tentu ini sangat mengkhawatirkan, karena kabupaten ini masyarakatnya sudah sangat konsumtif dan hedonis,” ujar Elis.

Faktor pendidikan juga menurut dia, sangat besar pengaruhnya. Rata-rata mereka hanya tamatan SD. Mereka jadi korban perdagangan manusia, tetapi mereka kadang tidak sadar akan hal itu. Juga tidak mudah untuk mengungkap kasus perdagangan manusia terutama yang melibatkan anak di bawah umur.

Menurut dia, sebagian besar korban dan keluarganya menganggap, kalau toh mereka dijual, hal itu adalah sebuah aib. “Jadi banyak yang tidak mau lapor karena malu. Belum lagi ada faktor ekonomi, dimana si anak itu terkadang menjadi tulang punggung keluarga. Banyak kendala di lapangan yang membuat kasus seperti ini sulit untuk diungkap,” kata Elis.

Namun kesulitan itu tak membuat dia putus asa. Upaya menekan kasus perdagangan manusia makin digiatkan, salah satunya dengan menjerat secara hukum para pelaku trafficking untuk menimbulkan efek jera. Caranya, menggandeng sejumlah advokat lokal yang ada di Sukabumi dan memberikan pelatihan khusus penanganan perdagangan manusia. (Ant)