Karapan Sapi, Sebuah Totalitas Prestasi & Seni Budaya Madura

Foto: Bocah Petualang

Jakarta, Sayangi.com – Kalau yang namanya Pacuan Kuda itu sudah biasa, lalu bagaimana kalau pacuan sapi? Jangan salah, bukan cuma kecepatan berlari si kuda saja yang sengit diperlombakan, dari pengalaman kami tahun lalu saat menyambangi  Pulau Garam, perlombaan adu cepat sapi pun nampak lebih sengit dan heboh.

Masyarakat Madura lebih mengenalnya dengan Karapan Sapi atau Bull Race. Acara tahunan masyarakat Madura ini selalu berhasil menyedot perhatian masyarakat luar, baik dari nusantara bahkan bule-bule mancanegara. Tahun lalu saja, kehadiran kami dengan beberapa komunitas wisata, yang belasan di antaranya berasal dari luar Indonesia disambut meriah oleh Bupati Pamekasan dan seluruh stafnya di Kantor Bupati Pamekasan .

Pada 20 Oktober 2013 ini, kembali puncak acara Karapan sapi akan digelar di bilangan Jalan Stadion  Pamekasan, tepatnya di Lapangan Sunarto Hadiwijoyo. Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya,  event bergengsi bagi masyarakat Madura ini memperebutkan piala Presiden Cup.  Sistemasi calon lomba pun masih sama, masing-masing dari empat kabupaten yang ada (Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Sumenep) dikirim enam pasangan sapi yang sudah diperlombakan untuk melaju  ke babak puncak. Masih sama uniknya, juaranya pun bukan hanya pasangan sapi yang menang, kategori  juara juga diperuntukan bagi pasangan-pasangan sapi yang kalah.

Salah satu panitia pelaksana festival Karapan sapi, Nanang Sufianto mengungkapkan bahwa event besar ini sudah menjadi ketetapan  bersama antara Dinas Pariwisata Jatim, Bakorwil, dan panitia pelaksana.

Bukan hanya medan untuk sapi-sapi yang adu cepat saja, event besar ini juga menghadirkan unsur kesenian dan budaya Madura yang masih berbau-bau sapi. Sehari sebelum perlombaan karapan sapi digelar, biasanya didahului dengan kesenian Sapi Sonok. Jika di medan laga, si sapi bertarung dengan tenaga, lain halnya dengan pagelaran Sapi Sonok yang bertarung dengan mengandalkan kecantikan dan keluwesannya berjalan dicatwalk ala Sapi Sonok.

Langsung dari lapangan Bakorwil IV, di jalan Slamet Riyadi, belasan pasangan sapi Sonok akan dihias layaknya pengantin dan bahkan di“salon”i bak model kelas dunia. Jalannya pun sudah diatur dalam gerakan yang sama, kiri kanan, kiri kanan. Si pemilik bahkan sorak sorai menari bersama sapi-sapinya dengan diiringi kelompok seni musik tradisional ala Madura, Soronen. Tak jarang, sinden ronggeng pun dibayar untuk menari bersama saat penilaian, yang ujung-ujungnya si sinden ronggeng ini kaya dengan lemparan ribuan bahkan puluhan ribu Rupiah, hasil “nyawer” para penonton.

Rupanya bukan cuma kesenian berbau sapi yang digelar, pada malam harinya digelar pula berbagai kesenian budaya dan adat Madura, seperti festival tarian tradisional dari berbagai kabupaten, festival makanan, dan kesenian ala Madura lainnya. Pesta rakyat tahunan di Madura ini memang layak dibanggakan, bahwa Indonesia memiliki jutaan ragam budaya yang unik dan patut dilestarikan.

Bagaimana tentang budaya ini bermula hingga sedemikian rupa berkembang bahkan terjadi beberapa penyimpangan di dalamnya? Kembali akan kami tuturkan pada tulisan berikutnya. (MI)