Karapan Sapi, “Behind The Scene”

Foto: Bubblews.com

Jakarta, Sayangi.com – Sebagian orang yang datang berburu tontonan seapik Karapan Sapi terkadang tak tahu-menahu soal asal usul dari event tahunan tersebut. “Hanya sekedar pesta rakyat”, begitu jawaban singkat yang kami peroleh dari beberapa penonton yang sempat kami tanya.

Memang tak pernah ada yang tahu bagaimana tradisi Karapan Sapi bermula. Namun informasi yang dikutip dari cerita warga kebanyakan, ialah Pulau Sapudi yang berlokasi di ujung utara pulau penghasil garam ini yang menjadi tonggak sejarah Karapan Sapi dari mulut ke mulut.

Seorang Pangeran bernama Tandur disebut-sebut yang mempopulerkan pesta rakyat tersebut, guna memperingati musim panen yang jatuh hampir setiap September hingga Oktober. Itu sebabnya, sapi dari Pulau Sapudi terkenal sebagai sapi-sapi dengan kualitas raja.

Dari sebuah ajang perlombaan balap sapi sederhana, masyarakatnya secara turun temurun mulai melestarikan tradisi tersebut setiap tahunnya. Dari generasi ke generasi, dari cara sederhana hingga yang menggugah air mata, hingga dari ajang senang-senang sampai totalitas sebuah kehormatan.

Ya, begitulah Karapan Sapi. Hingga kini pesta rakyat tersebut berkembang menjadi sebuah acara yang sangat prestisius di mata warga-warganya. Bagaimana tidak, ini adalah ajang adu gengsi bagi rakyat Madura, terutama tokoh-tokoh warga yang memiliki sapi. Harkat dan martabat seorang Madura di sini benar-benar diperhitungkan lewat kemenangan yang diraih si pasangan sapi miliknya, si sapi pun di beri mahkota dengan harga termahal.

Tak heran, bila si pasangan sapi (baca: atlet karapan) benar-benar diperlakukan bak raja, dari segi makanan, kesehatan, kandang, kebersihan, hingga stamina dijaga dengan merogoh kocek jutaan rupiah persatu ekor. Si sapi bukan hanya diberikan makanan bergizi, yang lebih istimewa si sapi setiap harinya disuguhi puluhan butir telur ayam, diberi minum jamu-jamuan, hingga ditherapy pijat oleh si tukang ahli pijat hewan.

Ternyata di balik perlakuan istimewa tersebut, si sapi harus berjuang keras ketika sudah digaris laga. Sejauh mana, miris dan sadis menurut kami, semua harus dibayar si sapi dengan hal-hal yang di luar kewajaran perlombaan. Dari mulai nasib pantat dan ekor sapi yang digaruk paku oleh sang joki saat perlombaan, hingga mata dan dubur si sapi yang diolesi bedak panas, balsem, dan sambal extra pedas.

Saya mulai bertanya, pasangan sapi-sapi tersebut murni berlari karena kemenangan atau hanya sekadar rasa tak tahan untuk lepas dari rasa sakitnya. Bahkan yang lebih fantastis, permainan gaib sang dukun keberuntungan diadu pula di sini. Jangan kira ini memang budaya asli dari Karapan, tidak sama sekali, ini adalah sebuah penyimpangan budaya yang memang sulit diubah, meski berkali-kali pemerintah sudah menegaskan agar tidak ada kekerasan fisik terhadap atlet-atlet sapi tersebut.

Dari penonton dengan rasa penasaran dan sorak sorai yang heboh, tak jarang pula, banyak penonton yang harus mengusap air matanya ketika melihat si sapi pun meneteskan air mata dan darah di tubuhnya karena siksaan.

Harapan besar kami tentulah menghapuskan kekerasan itu semua, dan melestarikan keaslian karapan sapi yang memang memiliki konsep sebuah “Pesta Rakyat”. Kapan? Itu pertanyaan yang harus dijawab oleh pemerintah setempat serta warga asli Madura itu sendiri. (MI)