Mulyana: Jangan Remehkan 11 Capres Demokrat

Foto: Sayangi.com/Emil Ondo

Jakarta, Sayangi.com – Perkembangan politik sekarang ini mengarah pada tiga sumbu poros politik, yaitu poros PDIP, Golkar dan Demokrat. Partai politik lain diprediksi akan merapat ke salah satu dari tiga poros utama. Sedangkan Gerinda, diperkirakan masuk poros Golkar atau Demokrat.

“Poros PDIP bukan berarti hanya PDIP sendirian, tetapi juga parta-partai yang sepaham dengan dengan PDIP. Demikian juga dua poros lain,” kata Mulyana W Kusumah dalam diskusi yang diadakan Relawan Jokowi (Bara JP) di Jakarta, yang berlangsung hingga subuh Senin (30/9).

Menurut pengamatan Mulyana, sebagaimana tercermin dari hasil-hasil penelitian berbagai lembaga survey, PDIP akan menempati urutan tertinggi dengan peroleh suara 28%. Disusul Golkar 18%, Demokrat dan Gerinda, yang diperkirakan sama-sama di angka sekitar 10%.

“PKS, akan lebih mudah bergabung ke poros Demokrat ketimbang ke Golkar, karena PKS sudah berpengalaman bermanuver bersama Demokrat,” kata Mulyana, Direktur Seven Strategic Studies (7SS). PAN, PKB bisa ke Demokrat. Hanura, bisa ke Golkar. Nadem dan PKPI bisa PDIP.

Mengenai kehadiran Relawan Jokowi sebagai gerakan yang tidak mengenal Jokowi, boleh jadi akan jadi akan mendapat resistensi khusus dari orang-orang sekitar sentrum Jokowi. Tetapi dengan ide dasar perubahan, Relawan Jokowi harus konsisten dengan semangat perubahan

Mulyana juga mengatakan, bukan tidak mungkin pula, Jokowi hanya dijadikan PDIP sebagai alat untuk meningkatkan elektabilitas partai, tanpa kejelasan apakah Jokowi dimajukan sebagai Capres atau tidak. Situasi seperti ini, tentu tak menyenangkan bagi Relawan Jokowi.

Kembali kepada situasi yang mengarah pada tiga poros, PKS menempati posisi unik, karena PKS menghadapi tiga persoalan penting. Yaitu, soal konsesi politik (dapat apa kalau bergabung ke salah satu poros), proteksi (perlindungan karena PKS banyak masalah), dan PKS butuh uang.

Mulyana mengingatkan, semua pihak tak bisa anggap enteng dari 11 figur peserta konvensi Demokrat, karena bagaimana pun Demokrat mempunyai pendukung dan berbagai jenis sumber daya. Potensi ini tak bisa diremehkan.

Mengenai Gerindra, menurut analisis Mulayana, akan mengalami kenaikan besar, namun tetap tidak akan melewati batas minimum pengajuan Capres (suara 25% atau kursi 20%). Maka mau tak mau, Gerinda akan masuk ke salah satu poros, namun bukan sumbu poros.

Dalam kesempatan yang sama, pengacara kawakan Robikin Emhas mengatakan, era modal dalam menggalang dukungan politik, sudah berlalu. Orang lebih percaya kepada figur ketimbang partai, lebih percaya figur ketimbang program.

“Jangankan sosok SBY, orang seperti atau mirip SBY saja sudah tak disukai masyarakat. Maka kalau PDIP tidak memajukan Jokowi, PDIP melakukan bunuh diri politik. Rakyat tak akan percaya lagi sama PDIP,” kata Robikin.

Agus Lennon, aktivis senior, menceritakan pengalaman mengunjungi Lombok. Kepada Caleg PKB di sana, masyarakat mau saja mendukung caleg PKB tetapi minta kepastian terlebih dahulu, harus mendukung Jokowi. Kalau tak mendukung Jokowi, rakyat tak mendukung caleg tersebut.

Agun Lennon memberi masukan agar Relawan Jokowi memuat yel-yel yang mudah diingat masyarakat, yaitu: Joko, Joko, Joko, Wi, Wi, Wi. Usul Lennon, langsung disepakati sebagai yel-yel Relawan Jokowi.

Nama Lennon di belakang nama Agus, bermula dari model kacamata aktivis ini, yang tahun 1980-an mengenakan model kacamata John Lennon (The Beatles), bulat kecil. Jadilah “jaringan bawah tanah” menjulukinya sebagai Agun Lennon. (RJ)