Menyusuri Lika-Liku Etnik Sapa di Vietnam Utara

Foto: Cocokelly

Vietnam, Sayangi.com РSama seperti demografi Indonesia, Vietnam selain terkenal dengan warisan budaya dan sejarahnya, pantai dan pegunungan pun menjadi salah satu destinasi wisata yang apik bagi wisatawan. Sebelum Nha Thrang dengan eksotisme alur pantainya, anda berkesempatan mencicipi udara dingin di kawasan utara Vietnam, tepatnya di Sapa.

Sapa sendiri terletak lumayan jauh dari arah utara Hanoi. Dari Ho chi min City, anda harus terbang 2,5 jam ke Hanoi. Dari Hanoi butuh waktu semalaman dengan kereta api untuk sampai ke Lao Chai, selain pemberhentian kereta api terdekat menuju Sapa, Lao Chai juga kawasan terdekat dari perbatasan Vietnam dengan China. Perjalanan tidak berhenti sampai disitu, butuh waktu sekitar 4 jam lagi dengan bus untuk sampai di pusat kota Sapa.

Beautifull of Sapa bisa anda nikmati dengan melakukan wisata tracking ke desa-desa di pegunungan Fansipan yang merupakan salah satu pegunungan tertinggi di Indochina, dan dekat dengan perbatasan China. Pegunungan tersebut menyimpan lika-liku kehidupan suku-suku Sapa yang menarik untuk diulas, bukan hanya sekedar foto, budaya dan cara hidup mereka pun menarik untuk dijadikan cerita kepada sanak saudara.

Suasana kota Sapa lebih mirip pedesaan yang cukup besar, masih alami, meski sudah banyak fasilitas komersil disekitarnya. Belum lagi jauh keluar dari penginapan untuk memulai tracking, langkah anda akan tertahan oleh pemandangan unik dari wanita-wanita lokal Sapa, mereka bukan hanya cantik alami dengan blush on pink alami di pipinya akibat udara dingin, mereka terlihat unik dengan pakaian serta atribut yang mereka kenakan.

Beragam, ada yang berpakaian hitam-hitam, kombinasi hitam merah, hingga pakaian yang berwarna-warni. Ikat kepala mereka juga beragam, dari warna merah, warna-warni, biru, hingga kuning. Rupanya mereka ini lah ikon-ikon wisata Sapa, mereka adalah bagian dari suku Hmong, suku asli Sapa. Mereka adalah suku minoritas Vietnam, meski sebenarnya suku-suku ini tersebar juga dibeberapa negara lainnya seperti Thailand dan Kamboja.

Keanekaragaman pakaian adat serta atribut mereka rupanya adalah ciri khas dari masing-masing sub etnik dari suku Hmong. Ada Black Hmong dengan nuansa hitam-hitam, ada Red Hmong dengan kombinasi hitam-merah, atau Flower Hmong dengan baju dan atribut warna-warni yang cerah. Wanita-wanita eksotis dan so colourfull tersebut akan menawarkan diri menawarkan untuk menjadi pemandu anda ke desa pedalaman seperti desa Cat-cat yang dikenal sebagai kampung Hmong hitam, Lao Chai – Ta Van – Ta Chai Giang yang terkenal sebagai kediaman suku Hmong etnis Tay Dzay. Ada yang menawarkan menuju Ban Khoang yang dikenal sebagai suku Hmong dengan etnis Dzao Merah. Tujuan lainnya hingga ke Ta Phin, yang terletak 15 km dari Sapa dengan pemandangan yang eksotis, Ban Ho – Sai Nam, rumah bagi etnis Tay dan Pho Xa yang terkenal dengan adat budaya kunonya yang masih kuat.

Ini budaya dan mata pencaharian kaum wanita Sapa, sambil mengekor dibelakang para wisatawan, dengan ramah dan bahasa Inggrisnya yang fasih mereka menawarkan souvenir khas Sapa yang berupa kerajinan tangan, dari mulai kain tenun, tembikar, hingga aksesoris gelang atau kalung. Perjalanan menyusuri lika-liku suku Sapa memang sangat menyenangkan, menjadi pengalaman unik yang berbeda, hampir 4 jam menyusuri alam Sapa, keluar masuk hutan, menyeberangi sungai-sungai kecil nan elok, menyusuri jalan setapak di persawahan hingga menikmati lansekap melalui gigir perbukitan. Sekilas mirip dengan suasana alam di Indonesia bahkan Nepal, udaranya pun sejuk bak di Puncak Gunung Gede Bogor. Setelah singgah di balai desa pedalamannya, makan siang dengan Poe Noodle soup ala Vietnam yang segar di warung-warung milik penduduk, anda bisa kembali ke jalur tracking untuk turun menuju pusat desa Sapa.

Berkunjunglah di hari Minggu, anda akan mendapatkan suasana lain di Sapa, pasalnya hampir semua sub suku etnik Sapa turun ke pusat perdagangan di Sapa, tepatnya di Cho Sapa Market. Setiap minggu digelar keramaian bertajuk Bac Ha Sunday Market. Mereka menggelar ragam barang dagangannya dengan harga miring, dari mulai hasil kerajinan tangan, hingga hasil kebun. Bukan hanya riuh para pedagang, anda bisa melihat internal suku etnik tersebut bersatu padu, dan suasana ini akan menjadi momen unik bagi kamera anda. (FIT)